Pemuja.com – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berdampak langsung pada jalur energi global. Salah satu yang paling disorot adalah kondisi Selat Hormuz.
Jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara di dunia.
Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas pelayaran di selat tersebut sempat terganggu akibat meningkatnya ketegangan militer. Sejumlah kapal tanker bahkan memilih menunda perjalanan karena risiko keamanan yang tinggi di perairan tersebut.
Iran Klaim Selat Hormuz Tidak Ditutup Total
Di tengah kekhawatiran pasar energi global, pemerintah Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup untuk pelayaran internasional.
Pernyataan dari pejabat Iran menyebutkan bahwa jalur tersebut tetap terbuka bagi kapal dari berbagai negara.
Namun, pembatasan diberlakukan terhadap kapal yang memiliki keterkaitan dengan AS dan Israel maupun negara yang mendukung operasi militer terhadap Iran.
Langkah ini membuat lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut menurun drastis. Banyak operator kapal memilih menunggu situasi lebih aman sebelum melintasi jalur yang mengangkut sebagian besar pasokan minyak dunia tersebut.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur energi paling vital di dunia. Diperkirakan sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Isu Transaksi Minyak Harus Menggunakan Yuan
Selain isu pembatasan kapal, muncul pula kabar bahwa Iran akan mengizinkan kapal tanker melintas Selat Hormuz dengan syarat transaksi minyak dilakukan menggunakan yuan milik China.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Iran memang sedang mempertimbangkan skema tersebut sebagai bagian dari strategi perdagangan energi di tengah sanksi ekonomi Barat.
Dalam rencana itu, sejumlah kapal tanker bisa diberi izin melintas jika muatan minyaknya diperdagangkan menggunakan yuan, bukan dolar AS.
Namun kebijakan tersebut masih berupa opsi yang sedang dipertimbangkan dan belum menjadi aturan resmi perdagangan minyak yang melewati Selat Hormuz.
Langkah ini dinilai berkaitan dengan upaya Iran untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan berbasis dolar yang selama ini mendominasi perdagangan minyak dunia.
Dampak Selat Hormuz ke Pasar Energi Global
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz langsung memicu gejolak di pasar energi. Harga minyak dunia sempat melonjak karena kekhawatiran terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Gangguan pada jalur ini berpotensi berdampak besar karena banyak negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mengirimkan ekspor minyaknya melalui selat tersebut.
Para analis energi menilai stabilitas Selat Hormuz akan sangat menentukan kondisi pasar energi global dalam beberapa waktu ke depan. Jika jalur tersebut kembali normal, pasokan minyak dunia dapat pulih lebih cepat.
Namun jika ketegangan berlanjut, risiko lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global masih akan membayangi banyak negara.
Leave a comment