Pemuja.com – Fenomena calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang setelah lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 kembali jadi sorotan. Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri, justru ada ratusan hingga ribuan calon mahasiswa yang akhirnya melepas kursi yang sudah mereka dapatkan.
Persoalan yang paling banyak disorot adalah tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Setelah dinyatakan lolos, banyak calon mahasiswa baru mulai berhadapan dengan angka biaya kuliah yang tidak kecil. Bagi sebagian keluarga, inilah titik paling berat, apalagi jika ada lebih 1 anak yang berkuliah dalam 1 keluarga. Lolos ke kampus negeri ternyata belum tentu berarti bisa langsung kuliah.
Isu ini menguat setelah ramai pembahasan soal puluhan ribu kursi yang tidak terisi di perguruan tinggi negeri. Angka itu memang bukan khusus peserta SNBP 2026 saja, melainkan akumulasi kursi yang tidak terisi dari beberapa jalur penerimaan. Namun di luar polemik soal angka, kenyataan di lapangan tetap sama. Ada banyak calon mahasiswa yang batal registrasi ulang, dan alasan biaya menjadi penyebab yang paling sering muncul.
Gambaran itu terlihat di sejumlah kampus. Di Kota Malang misalnya, total 457 calon mahasiswa SNBP 2026 tercatat tidak melakukan daftar ulang. Rinciannya 214 orang di Universitas Negeri Malang, 193 orang di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan 50 orang di Universitas Brawijaya. Di Universitas Pendidikan Indonesia, puluhan calon mahasiswa juga dilaporkan batal registrasi ulang. Mayoritas disebut terkendala masalah ekonomi.

UKT Tinggi Jadi Tembok Pertama
Tingginya UKT menjadi tembok pertama yang langsung dihadapi calon mahasiswa setelah dinyatakan lolos. Persoalannya bukan lagi soal mampu atau tidak bersaing masuk PTN. Yang jadi masalah adalah apakah keluarga sanggup membayar biaya kuliah saat surat penerimaan sudah ada di tangan.
Bagi keluarga menengah ke bawah, nominal UKT bisa langsung mengubah rencana. Jalur SNBP yang seharusnya jadi pintu masuk bagi siswa berprestasi pada akhirnya belum tentu berujung di ruang kuliah. Saat biaya yang muncul melampaui kemampuan keluarga, kursi yang sudah diperjuangkan pun terpaksa dilepas.
Kondisi ini membuat kelulusan SNBP tidak otomatis menjadi tiket aman untuk kuliah. Banyak calon mahasiswa yang sudah lolos justru berhenti di tahap akhir karena beban biaya. Kampus negeri yang semestinya jadi harapan mobilitas sosial tetap terasa jauh bagi sebagian keluarga.
Bukan Hanya UKT, Biaya Hidup Juga Menekan
Setelah UKT, persoalan lain yang ikut menekan adalah biaya hidup selama kuliah. Beban ini terasa lebih berat bagi calon mahasiswa yang diterima di kampus luar kota dan harus merantau. Biaya kos, makan, transportasi, sampai kebutuhan kuliah lain membuat total pengeluaran menjadi jauh lebih besar.
Ada pula calon mahasiswa yang berharap bisa terbantu lewat KIP Kuliah atau skema bantuan lain. Namun tidak semua akhirnya mendapat dukungan pembiayaan. Akibatnya, pilihan yang tersisa menjadi sangat berat. Memaksakan kuliah dengan kondisi keuangan yang rapuh, atau mundur sebelum semester dimulai.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan tinggi tidak berhenti di tahap seleksi. Siswa bisa saja lolos lewat jalur prestasi, tetapi belum tentu bisa benar-benar masuk kuliah. Akses masuk yang terbuka belum otomatis berarti akses pendidikan yang terjangkau.

Kursi Lolos, tetapi Gagal Ditempati
Kondisi ini menghadirkan ironi dalam sistem penerimaan mahasiswa baru. Di satu sisi, persaingan masuk PTN sangat ketat dan banyak siswa gagal mendapatkan kursi. Di sisi lain, ada kursi yang justru kosong karena calon mahasiswa yang lolos tidak mampu menuntaskan proses daftar ulang.
Karena itu, persoalan ini tidak bisa hanya dibaca sebagai urusan administrasi kampus. Di balik angka-angka itu, ada pertanyaan yang lebih besar soal arah kebijakan pendidikan. Jika anggaran pendidikan benar-benar diprioritaskan untuk memperluas akses kuliah, semestinya kasus mahasiswa gagal daftar ulang karena biaya bisa ditekan.
Di titik ini, kritik layak diarahkan kepada pemerintah. Anggaran pendidikan selama ini disebut tetap 20 persen, tetapi apakah porsi itu benar-benar dipakai untuk memperkuat akses pendidikan tinggi, atau justru mulai terserap ke pos lain seperti program Makan Bergizi Gratis.
Sebab kalau UKT tetap tinggi dan calon mahasiswa terus mundur karena biaya, kesan yang muncul tentu tidak baik. Jangan sampai pendidikan tinggi pelan-pelan dianggap hanya untuk mereka yang punya uang cukup.
Kalau situasinya terus begini, bukan tidak mungkin akan muncul sindiran yang makin terasa pahit: kuliah tinggi memang terbuka untuk semua, tetapi yang benar-benar bisa masuk tetap mereka yang sanggup membayar.
Baca Artikel Lainnya :
- Ribuan Calon Mahasiswa SNBP Tak Daftar Ulang, Apa Penyebabnya? Apakah Ada Tindakan Pemerintah?
- Mengejutkan, Brasil Tumbang di Kaki Norwegia. Ada Kejutan Apalagi di Pertandingan Malam Ini?
- Maroko dan Prancis Lolos, Giliran 2 Big Match Brasil vs Norwegia dan Meksiko vs Inggris
- Babak 16 Besar Dimulai, Apakah Akan Ada Banyak Kejutan?
- Babak 32 Besar Tuntas, Wakil Asia Habis
Leave a comment