Pemuja.com – Perjalanan hidup Abdul Wahid sempat menginspirasi banyak orang. Dari seorang cleaning service di kampus, ia berhasil menapaki tangga politik hingga menjadi Gubernur Riau. Namun kisah perjuangan itu kini berubah drastis setelah ia terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Senin (3/11/2025) malam.

Karier dari Nol Hingga ke Kursi Gubernur
Abdul Wahid lahir di Dusun Anak Peria, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada 21 November 1980. Sejak kecil, ia hidup dalam kesederhanaan. Untuk membiayai kuliahnya di Fakultas Tarbiyah UIN Suska Riau, Wahid bekerja serabutan, mulai dari membantu orang tua di sawah, menjadi kuli bangunan, hingga cleaning service di kampus.
Ketekunan itu membawanya terjun ke dunia organisasi mahasiswa, yang kemudian membuka jalan ke dunia politik. Ia bergabung dengan partai, lalu berhasil duduk sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024. Karier politiknya terus menanjak hingga akhirnya memenangkan Pilgub Riau 2024 dan resmi dilantik sebagai gubernur pada 20 Februari 2025.

Simbol Anak Daerah yang Naik dari Bawah
Kisah hidup Abdul Wahid semula menjadi simbol keberhasilan anak daerah yang mampu menembus batas sosial. Banyak warga Riau memandangnya sebagai bukti bahwa kerja keras dapat mengubah nasib. Namun, citra itu kini tercoreng setelah KPK mengamankan Wahid bersama sekitar 9 orang pejabat Pemprov Riau dalam OTT di Pekanbaru.
Rangkaian OTT dan Citra KPK
Penangkapan ini menambah daftar panjang kepala daerah di Riau yang tersandung kasus korupsi. Sepanjang 2025, ini merupakan OTT keenam yang dilakukan KPK. Publik pun mulai mempertanyakan, mengapa praktik serupa terus berulang di tanah Lancang Kuning, meski pergantian pemimpin telah terjadi berkali-kali.
Beberapa kalangan menilai, kasus Wahid memperlihatkan betapa kuatnya godaan kekuasaan, bahkan bagi mereka yang lahir dari kesederhanaan. Tak sedikit yang menilai ada dugaan tebang pilih dalam penegakan hukum di daerah ini, terutama jika dikaitkan dengan dinamika politik lokal yang kian memanas.
Harapan dan Pelajaran
Kisah Abdul Wahid menjadi pengingat bahwa perjuangan panjang tak selalu berakhir indah jika integritas tak dijaga. Jabatan publik seharusnya menjadi amanah, bukan ladang untuk memperkaya diri.
Riau kini kembali harus menata diri. Masyarakat berharap kejadian ini menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan dan membangun sistem pengawasan yang lebih kuat.
Pada akhirnya, kisah ini menegaskan satu hal: kejahatan sering kali bukan karena niat, melainkan karena ada kesempatan. Dan ketika kesempatan itu terbuka lebar di tengah lemahnya pengawasan, integritas menjadi pertahanan terakhir yang menentukan apakah seseorang tetap lurus atau justru tergelincir.
Leave a comment