Pemuja.com – Kisruh di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) terus memanas. Syuriyah PBNU menetapkan pemberhentian Gus Yahya Cholil Staquf dari posisi Ketua Umum. Keputusan ini langsung ditolak kubu Gus Yahya. Mereka menilai proses itu tidak sah karena tidak melalui muktamar sebagai forum tertinggi.

Di tengah ketegangan, publik dikejutkan oleh foto dan video Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya yang berada dalam satu pesawat. Momen itu menimbulkan berbagai spekulasi yang menarik.
Pemecatan yang Diperdebatkan
Surat pemberhentian dari Syuriyah PBNU menuai banyak kritik. Dokumen itu dianggap cacat prosedural karena status Ketua Umum hanya dapat diputuskan melalui muktamar.
Selain itu, surat pemecatan tidak memiliki stempel digital, yang memunculkan dugaan sabotase atau ketidakwajaran internal. PBNU menyebut hal itu akibat gangguan sistem persuratan, tetapi penjelasan itu tidak meredam kecurigaan.
Hal ini memicu pertanyaan baru. Apakah ini sekadar masalah administrasi atau ada faktor lain yang lebih besar?

NU dan Privilege di Era Jokowi
Konflik ini tidak bisa dilepaskan dari posisi NU pada era Jokowi. Selama sepuluh tahun terakhir, pengaruh organisasi ini meningkat tajam. Banyak kader NU menempati jabatan penting, termasuk Menteri Agama.
Hubungan NU dan pemerintah juga sangat dekat. NU mendapat ruang besar dalam program pendidikan, moderasi beragama, dan kegiatan sosial negara.
Peran ormas dalam kebijakan publik meluas, menjadikan NU mitra utama pemerintah dalam isu ideologi dan pemberdayaan masyarakat.
Penguatan itu membuat NU berada pada lingkar inti kebijakan nasional. Posisi ini memberi efek politik dan membuka akses ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau.
Akses Tambang dan Retaknya Elit
Salah satu isu sensitif yang ikut dibicarakan adalah akses ormas ke konsesi tambang. NU termasuk pihak yang paling siap mengelola peluang tersebut. Namun peluang besar ini juga menciptakan gesekan di internal.

Tambang dianggap dapat memperkuat ekonomi pesantren. Tetapi muncul kekhawatiran soal kendali, manfaat, dan potensi konflik kepentingan. Banyak yang melihat ketegangan ini bukan hanya soal AD/ART. Ada perebutan pengaruh yang lebih besar di baliknya.
Momen Satu Pesawat: Kebetulan atau Tanda?
Kehadiran Rais Aam dan Gus Yahya dalam satu pesawat menimbulkan banyak tafsir. Ada yang melihatnya sebagai sinyal rekonsiliasi dan dialog. Ada juga yang menganggap itu hanya sebuah kebetulan.
PBNU sendiri menegaskan bahwa tidak ada agenda khusus. Namun momen itu tetap menarik perhatian publik karena muncul saat suasana internal sedang panas.

NU di Persimpangan
NU berada di titik penting. Konflik ini menguji komitmen organisasi terhadap musyawarah dan disiplin struktur. Tarik-menarik kepentingan juga semakin kuat.
Setelah bertahun-tahun mendapat posisi penting di pemerintahan, NU kini harus memastikan tidak terjadi perpecahan. Semoga konflik ini segera selesai tanpa munculnya dualisme yang merugikan organisasi.
Leave a comment