Pemuja.com – Penjualan smartphone asal China mengalami tantangan di beberapa pasar, termasuk di Indonesia. Data riset pasar menunjukkan tren penurunan pangsa pasar beberapa merek China di segmen tertentu karena perubahan preferensi konsumen dan kondisi ekonomi yang lebih hati-hati.
Analis pasar mencatat bahwa permintaan untuk perangkat menengah dan premium dari merek seperti OPPO dan Vivo mulai menurun jika dibandingkan dengan era sebelumnya.
Perubahan ini membuat pedagang ponsel merasa tertekan karena stok produk menumpuk dan perputaran dagang menurun secara signifikan.
Beberapa pedagang bahkan melaporkan bahwa konsumen kini lebih selektif saat membeli gadget baru. Alasan utama adalah rendahnya daya beli dan persepsi bahwa upgrade dari ponsel lama ke model baru tidak memberikan peningkatan fitur yang cukup berarti.
Banyak konsumen menilai spesifikasi smartphone terbaru kini cenderung stagnan, sehingga pembelian ditunda atau dibatalkan.
Penjualan HP Secara Total Turun
Secara global, pasar smartphone China juga mencatat penurunan penjualan. Laporan riset menunjukkan bahwa penjualan smartphone di China turun hingga sekitar 23% pada Januari 2026 dibanding tahun sebelumnya.
Brand besar seperti Xiaomi mengalami kontraksi penjualan yang cukup besar di pasar domestik mereka, padahal dulu termasuk pemain kuat di segmen entry-level global. Sementara itu, penjualan Apple justru tumbuh di beberapa segmen tertentu, mencerminkan adanya perubahan preferensi.
Baca Juga : Trump Umumkan BoP Berkomitmen Rp84 Triliun untuk Gaza
Selain itu, beberapa produsen besar dari China dilaporkan mengurangi jumlah unit yang akan mereka kirimkan ke pasar pada 2026, termasuk untuk model di luar segmen biaya rendah (entry-level).
Hal ini dilakukan karena mereka berupaya menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang berubah dan biaya produksi yang meningkat.
Cari HP Murah atau Beralih ke Brand Lain
Tren di Indonesia kini menunjukkan bahwa konsumen lebih memilih HP murah atau perangkat dengan nilai fungsi tinggi daripada sekadar merek populer asal China.
Ponsel murah di kisaran harga di bawah Rp2 juta berhasil membukukan pertumbuhan pangsa pasar yang signifikan, sementara permintaan untuk perangkat kelas menengah atau premium justru stagnan atau turun. Hal ini berlaku tidak hanya untuk merek China, namun juga untuk merek global lain yang tidak bersaing di segmen entry-level.
Di sisi lain, sejumlah laporan menunjukkan bahwa pangsa pasar brand China tertentu mulai berkurang dibanding pesaing seperti Samsung yang kembali menarik minat konsumen dengan penawaran fitur terbaru dan dukungan purna jual yang lebih kuat.
Analis pasar menilai bahwa faktor-faktor seperti dukungan perangkat lunak, jaminan layanan, dan garansi resmi kini menjadi pertimbangan penting bagi konsumen Indonesia.
Dampak pada Pedagang dan Tips Konsumen
Dampak dari tren ini dirasakan langsung oleh penjual ponsel di pasar tradisional dan marketplace. Banyak pedagang mengeluhkan stok yang menumpuk, margin keuntungan yang kecil, dan penjualan yang turun drastis.
Beberapa toko bahkan memilih mengurangi jumlah stok HP China tertentu yang permintaannya melemah secara nyata.
Konsumen sendiri kini disarankan untuk memperhatikan kebutuhan nyata perangkat, seperti ketahanan baterai, dukungan update sistem operasi, dan layanan purna jual sebelum membeli gadget baru.
Sementara itu, pasar ponsel murah diperkirakan masih akan dominan dalam waktu dekat, seiring pertumbuhan permintaan dari konsumen berhati-hati atau beranggaran terbatas., perhatian kini tertuju pada realisasi bantuan dan dampaknya bagi proses pemulihan di wilayah tersebut.
Leave a comment