Pemuja.com – Memasuki puncak musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Kondisi cuaca yang semakin kering membuat risiko kebakaran meningkat, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi yang mudah terbakar.
Pemerintah mencatat luas wilayah yang terdampak karhutla di Indonesia telah mencapai lebih dari 107 ribu hektare hingga Agustus 2026. 6 provinsi menjadi wilayah prioritas penanganan karena memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi.

Provinsi Yang Masuk Wilayah Rawan
Enam provinsi yang saat ini menjadi perhatian pemerintah adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data BNPB hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi tersebut mencapai 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luas terbakar terbesar, yakni sekitar 28.680 hektare.
Riau berada di urutan berikutnya dengan sekitar 15.551 hektare. Kemudian Kalimantan Tengah sekitar 3.069 hektare, Sumatera Selatan 664 hektare, Jambi sekitar 540 hektare, dan Kalimantan Selatan sekitar 383 hektare.
Selain wilayah tersebut, kebakaran juga terjadi di Jawa Timur. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang sempat membakar ratusan hektare kawasan.

Mengapa Karhutla Terjadi?
Musim kemarau menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko karhutla. Saat curah hujan menurun, tanah, semak, rerumputan, dan vegetasi menjadi lebih kering sehingga api lebih mudah muncul dan menyebar.
Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena El Niño. BMKG memprediksi El Niño masih akan berlangsung hingga setidaknya awal 2027 dengan potensi mencapai intensitas kuat. Kondisi ini dapat meningkatkan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap karhutla perlu ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan.
Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. Aktivitas manusia juga menjadi pemicu penting, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar. Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan cepat menyebar ketika kondisi tanah dan vegetasi sangat kering.
Asap Jadi Ancaman
Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran juga menghasilkan asap yang dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat.
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, salah satunya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak perlu lebih waspada, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Asap pekat juga dapat menyebabkan mata perih, batuk, sesak napas, serta mengganggu jarak pandang. Sejumlah wilayah bahkan mengalami penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran.

Pemerintah berupaya mencegah asap menyebar lebih luas, termasuk ke negara-negara tetangga. Untuk mempercepat pemadaman, operasi darat dan udara terus dilakukan. Puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan untuk membantu pemadaman serta menangani titik-titik api.
Waspada Puncak Kemarau
Karhutla diperkirakan masih menjadi ancaman selama musim kemarau berlangsung. Terlebih, Agustus menjadi salah satu periode ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim kering.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan dan sampah di kawasan yang mudah terbakar.
Dengan kondisi kemarau yang lebih kering serta pengaruh El Nino, pencegahan menjadi langkah penting. Sebab, ketika api sudah meluas di lahan gambut atau kawasan sulit dijangkau, proses pemadaman dapat berlangsung jauh lebih sulit.
Baca Artikel Lainnya :
- Prabowo : Masak TNI-Polri Tak Bisa Usut 1.000 Tambang Ilegal
- Musim Kemarau Memuncak, Karhutla Mengancam Sejumlah Wilayah Indonesia
- Viral Challenge Ayat Suci Berhadiah Miras, Polisi Tangkap 2 Orang
- BNN Gerebek Kampung Bahari, Bandar Narkoba Beri Perlawanan
- Utang RI Tembus 10.000 Triliun, Purbaya: Masih di Bawah 60%
Leave a comment