Pemuja.com – Tidak terbayangkan bagi seorang siswi berusia 16 tahun, yang sebelumnya dikenal berprestasi dan aktif di sekolah, harus menghadapi kondisi seperti yang dialami Febiola Br Purba.
Febiola bukan sekadar siswi biasa. Di sekolahnya, ia dikenal sebagai pelajar berprestasi yang kerap meraih peringkat pertama di kelas, dan ia bahkan dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS.
Febiola hanyalah satu dari 265 siswa yang pada 13 Agustus 2026 mengalami dugaan keracunan setelah menyantap MBG di Kabupaten Karo. Namun hampir sebulan kemudian, ketika sebagian siswa mungkin telah kembali menjalani aktivitas seperti biasa, nasib Febiola justru masih jauh dari normal.
Kini alih-alih menjalani hari-hari sebagai pelajar dan mengejar cita-cita, Febiola kini harus berulang kali menjalani perawatan medis setelah mengalami gangguan kesehatan yang oleh keluarganya dikaitkan dengan dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejak 13 Agustus 2026, Febiola disebut telah menjalani perawatan di lima rumah sakit, mulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP H Adam Malik hingga RS Amanda Karo.

Kondisinya belum sepenuhnya pulih. Bahkan menurut keluarga, daya ingat Febiola mengalami penurunan hingga sekitar 70 persen. Ia bahkan disebut sempat tidak mengenali keluarga, guru, maupun teman-teman sekolahnya.
Perubahan kondisi itu membuat keluarga harus terus mendampingi Febiola. Pemeriksaan medis pun masih dilakukan untuk mencari penyebab pasti gangguan yang dialaminya.
Febiola kembali menjalani pemeriksaan di RSUP H Adam Malik Medan pada 7 September. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Karo.
Ibu Febiola Meledak di RDP
Senin, 7 September 2026, ratusan orang tua korban hadir dalam RDP di DPRD Kabupaten Karo. Mereka bertemu dengan DPRD, pihak SPPG dan pihak terkait untuk mempertanyakan penanganan para korban dugaan keracunan MBG.

Suasana berlangsung ramai dan tegang. Salah satu yang paling emosional adalah Elvinus Lusiana br Sitanggang, ibu Febiola.
Ia mempertanyakan tanggung jawab pihak SPPG karena anaknya hingga kini masih sakit dan harus berulang kali menjalani perawatan.
“Anak saya lah yang kena ginjalnya. Di mana hati nurani kalian? Terutama Kepala SPPG, bapak punya anak atau tidak?” kata Elvinus dalam RDP.
Ia kemudian menegaskan kondisi anaknya yang hingga kini masih lemah.
“Ini anakku sekarang lemah di rumah. Ini tentang nyawa. Nyawa. Anak saya sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit,” ujarnya.
Elvinus juga mempertanyakan apa sebenarnya yang terdeteksi dari makanan yang dikonsumsi anaknya.
“Sayalah yang viral di media sosial itu, yang menanyakan racun apa yang terdeteksi di ikan itu. Sampai sekarang kami tidak tahu, kalian bungkam semua. Bungkam,” katanya.

Ia bahkan mempertanyakan penggunaan anggaran MBG.
“Itu MBG bukan uang pribadi kalian kan. Uang masyarakat kan. Uang kami juga,” ujar Elvinus.
Pernyataan tersebut menggambarkan kekecewaan keluarga yang merasa masih belum mendapatkan jawaban memadai mengenai kondisi Febiola.
Baca Juga : Iran Ancam AS dengan Rudal Baru, Konflik Makin Memanas
Ingatan yang Menurun
Perjalanan Febiola mencari kesembuhan memang tidak singkat.
Sejak pertengahan Agustus, ia telah berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Keluarga menyebut kondisinya mengalami perubahan drastis setelah kejadian tersebut.
Menurut keterangan keluarga yang diberitakan sejumlah media, Febiola bahkan mengalami gangguan memori hingga sekitar 70 persen dan tidak lagi mengenali sejumlah orang terdekatnya.
Namun, penyebab pasti gangguan tersebut masih membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut. Karena itu, kondisi Febiola dan kaitannya dengan dugaan keracunan MBG perlu ditempatkan sebagai klaim keluarga dan masih dalam proses pemeriksaan.
Bagi keluarga, terlepas dari apa hasil akhir pemeriksaan medis nantinya, persoalannya tetap sama: anak mereka belum kembali seperti sebelumnya.
Orang Tua Menagih Kepastian
Dalam RDP, orang tua korban menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka meminta kepastian mengenai tanggung jawab terhadap korban, biaya pengobatan, proses hukum, legalitas pengelola SPPG, serta keterbukaan hasil pemeriksaan laboratorium.
Kasus Febiola memperlihatkan bahwa persoalan dugaan keracunan tidak selesai ketika korban meninggalkan rumah sakit.
Ada keluarga yang masih mencari pengobatan. Ada anak yang belum kembali menjalani kehidupan normal. Dan ada orang tua yang masih menunggu jawaban.
Masih Layakkah MBG Diteruskan?
Kasus di Karo kembali memunculkan pertanyaan lebih besar di tengah laporan dugaan keracunan MBG di berbagai daerah.
Masih layakkah program sebesar ini diteruskan jika persoalan keamanan pangan dan pengawasan belum mampu dijamin sepenuhnya?
MBG memiliki tujuan yang baik. Namun tujuan tersebut tidak boleh mengalahkan keselamatan anak.
Dengan anggaran dan perputaran ekonomi yang sangat besar, publik juga berhak bertanya: apakah ada kepentingan ekonomi para pelaksana maupun pemodal yang berpotensi ikut bermain dalam program ini?
Pertanyaan itu tentu harus dijawab dengan data dan transparansi, bukan sekadar dugaan.
Sebab ukuran keberhasilan MBG bukan hanya berapa banyak makanan yang dibagikan atau berapa besar anggaran yang terserap.
Ukuran utamanya sederhana: apakah anak-anak benar menerima makanan bergizi yang benar-benar aman dan sehat?
Bagi keluarga Febiola, jawabannya hingga kini masih menjadi perjuangan mereka.
Baca Artikel Lainnya :
- Prabowo Lepas Kontingen Indonesia ke Asian Games 2026
- Demo 27 Agustus Terasa Seperti Drama Korea, Apakah Murni Gerakan Masyarakat?
- Dulu Berprestasi, Kini Berjuang Pulih: Kisah Febiola Korban Dugaan Keracunan MBG
- Iran Ancam AS dengan Rudal Baru, Konflik Makin Memanas
- Tembus Rp10 Miliar! Besok Deadline Sayembara Ijazah Gibran
Leave a comment