Pemuja.com – Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,59 persen pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026). Penurunan ini membuat IHSG kembali jatuh ke bawah level psikologis 6.000.
IHSG ditutup di level 5.936,14, turun dari penutupan sebelumnya di posisi 6.093,75. Padahal, pada awal perdagangan, indeks sempat menguat hingga menyentuh level 6.128,72 sebelum akhirnya berbalik arah dan masuk ke zona merah.
Lalu, apa yang menyebabkan IHSG turun tajam? Sejumlah faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap evaluasi indeks global, konflik geopolitik, hingga tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, ikut membebani pasar saham Indonesia.

Isu MSCI Bikin Investor Khawatir
Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah evaluasi indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Lembaga ini menjadi acuan bagi banyak investor global dalam menentukan penempatan dana di pasar saham.
Kekhawatiran muncul terkait transparansi kepemilikan saham dan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar (free float). Jika pembatasan terhadap saham Indonesia berlanjut, aliran dana investor asing berpotensi tertekan.
Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak
Ketegangan di Timur Tengah juga menambah ketidakpastian pasar. Serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Harga minyak Brent sempat naik sekitar 1,9 persen ke posisi US$106,69 per barel.
Harga minyak yang tinggi dapat memicu inflasi dan meningkatkan biaya energi. Di sisi lain, arah suku bunga Amerika Serikat serta penguatan dolar turut memengaruhi minat investor terhadap pasar negara berkembang.
Saham Energi Berguguran
Tekanan IHSG semakin besar setelah ratusan saham mengalami penurunan.
Sebanyak 602 saham melemah, sedangkan 114 saham menguat dan 77 saham tidak berubah.
Sejumlah saham yang terkoreksi tajam antara lain PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar 14,95 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar 14,94 persen, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 14,60 persen.
Penurunan saham-saham tersebut ikut membebani pergerakan indeks.
Bagaimana Prospek IHSG Selanjutnya?
Pergerakan IHSG selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak dunia, arus dana investor asing, serta kepastian mengenai evaluasi MSCI.
Pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat dan China yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap perekonomian global dan arah kebijakan suku bunga.
Bagi masyarakat yang berinvestasi di pasar saham, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pergerakan harga dapat dipengaruhi banyak faktor. Penurunan indeks tidak otomatis berarti seluruh saham memiliki kondisi fundamental yang buruk.
Investor tetap perlu mencermati kinerja perusahaan, risiko investasi, dan perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan. Sementara itu, arah IHSG dalam beberapa hari ke depan masih bergantung pada bagaimana pasar merespons berbagai ketidakpastian tersebut.
Baca Artikel Lainnya :
- Listrik Padam di Batam, BBM Sulit Dicari di Bali, Apa Tanggapan Pemerintah?
- IHSG Jatuh di Bawah 6.000, Apa Faktor Penyebabnya?
- BNPB Catat Kebakaran 639 Hektare, Tanjung Puting Terluas
- Houthi Yaman Hantam Bandara Arab Saudi, 12 Tewas dan 300 Terluka
- 43.863 Hotspot Karhutla Picu Kecelakaan Maut hingga Luar Negeri
Leave a comment