Pemuja.com – Setelah wafatnya Pakubuwono XIII, Keraton Surakarta kembali menjadi panggung tarik-menarik kepentingan internal.
Perebutan takhta di antara para trah darah biru memunculkan ketegangan yang nyaris memecah belah keluarga besar Kasunanan.
Masing-masing kubu mengklaim legitimasi, mengusung nama-nama calon penerus yang dianggap paling layak.

Di tengah pusaran konflik ini, nama Gusti Purbaya putra PB XIII terus mengemuka sebagai figur yang paling siap melanjutkan kepemimpinan.
Namun, jalan menuju pengukuhan tidak semudah yang dibayangkan. Intrik, penolakan diam-diam, dan tarik ulur restu dari para sesepuh keraton menjadi ujian pertama bagi sang calon raja.
Jumenengan Dalem: Sakralitas yang Menyatukan
Pada 15 November 2025, halaman dalam Keraton Surakarta dipenuhi suasana sakral. Prosesi Jumenengan Dalem, penobatan raja baru, digelar dengan penuh khidmat.
Gusti Purbaya, mengenakan busana kebesaran raja Mataram, melangkah mantap menuju Singgasana Agung. Di hadapan para abdi dalem, tokoh adat, dan perwakilan pemerintah, ia resmi dinobatkan sebagai Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIV.

Prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol penyatuan kembali keluarga besar keraton setelah badai konflik.
Tangis haru dan tepuk tangan rakyat mengiringi momen bersejarah ini, seolah menjadi penanda bahwa Surakarta siap melangkah ke babak baru.
Darah Biru Sang Raja Muda Keraton
Gusti Purbaya bukan hanya pewaris darah biru, tetapi juga representasi generasi baru yang membawa harapan akan pembaruan.
Lahir dari pasangan PB XIII dan GKR Pakubuwana Pradapaningsih, ia telah ditetapkan sebagai putra mahkota sejak 2022.

Meski masih menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Gadjah Mada, Purbaya dikenal sebagai sosok yang rendah hati, cerdas, dan dekat dengan rakyat.
Ia kerap terlibat dalam kegiatan budaya dan sosial, menjembatani nilai-nilai tradisi dengan semangat zaman. Penobatannya menjadi simbol regenerasi, bahwa keraton tak hanya menjaga warisan, tetapi juga siap beradaptasi dengan tantangan masa depan.
Rekonsiliasi dan Harapan Baru untuk Keraton
Penobatan Pakubuwono XIV bukan hanya kemenangan satu pihak, melainkan hasil dari proses panjang rekonsiliasi.
Para kerabat yang sempat berbeda pandangan akhirnya menyatukan suara demi menjaga marwah keraton. Pemerintah daerah dan pusat turut berperan sebagai penengah, memastikan transisi berlangsung damai dan konstitusional.
Kini, dengan satu suara dan satu raja, Keraton Surakarta memiliki peluang besar untuk kembali menjadi pusat kebudayaan Jawa yang hidup dan dinamis. Harapan rakyat pun mengalir deras: agar sang raja muda mampu menjaga warisan leluhur sekaligus membawa angin segar bagi masa depan keraton.
Dari Bayang Masa Lalu Menuju Cahaya Perubahan
Keraton Surakarta telah melewati berbagai badai sejarah dari kolonialisme, revolusi, hingga modernisasi. Kini, di bawah kepemimpinan Pakubuwono XIV, tantangan baru menanti: bagaimana menjadikan keraton relevan di tengah arus zaman.
Apakah sang raja muda mampu menjawab ekspektasi publik, merangkul generasi muda, dan menghidupkan kembali denyut budaya Jawa? Ataukah ia akan terjebak dalam pusaran konflik lama yang terus membayangi? Sejarah akan mencatat, bahwa dari bara konflik antar saudara, lahirlah satu nama yang kini memikul harapan ribuan rakyat: Gusti Purbaya, Pakubuwono XIV.
Leave a comment