Pemuja.com – Kebakaran hebat melanda Gedung Terra Drone yang berlantai tujuh di Jalan Letjen Suprapto, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa siang, 9 Desember 2025.
Sekitar pukul 12.40 WIB, ledakan diduga berasal dari baterai litium drone yang disimpan di gudang lantai satu. Tak lama setelah ledakan, api menjalar dengan cepat dan asap pekat memenuhi lantai dua hingga enam.
Banyak karyawan panik dan berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke rooftop untuk meminta pertolongan.
Armada pemadam kebakaran tiba tujuh menit setelah laporan masuk, namun proses pemadaman berlangsung hingga lebih dari lima jam, baru tuntas sekitar pukul 17.38 WIB.
Korban Jiwa dan Proses Evakuasi Tragedi Terra Drone
Tragedi ini menelan korban jiwa sebanyak 22 orang, terdiri dari 15 perempuan dan 7 laki-laki. Sebagian besar korban meninggal akibat terjebak asap pekat dan kehabisan oksigen di lantai atas.
Salah satu korban diketahui sedang hamil, menambah duka mendalam bagi keluarga. Selain itu, 19 orang berhasil diselamatkan, meski beberapa mengalami luka ringan dan trauma.
Evakuasi dilakukan dengan penuh kesulitan karena asap yang begitu tebal dan kondisi gedung yang sudah dipenuhi api.

Penanganan dan Investigasi Gedung Terra Drone
Jenazah korban dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung lokasi kebakaran dan mendirikan posko darurat untuk mendampingi keluarga korban.
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, Bayu Megantara, menyebutkan bahwa 29 unit mobil damkar dan 101 personel dikerahkan dalam operasi pemadaman.
Polisi kini mendalami dugaan kelalaian dalam penyimpanan baterai litium, mengingat bahan tersebut dikenal sangat berisiko bila tidak ditangani dengan standar keamanan tinggi.
Dampak Kebakaran Gedung Terra Drone
Gedung Terra Drone, yang merupakan kantor cabang perusahaan teknologi asal Jepang, kini menjadi sorotan tajam.
Tragedi ini menegaskan pentingnya protokol keselamatan kerja, manajemen risiko, serta kesiapan evakuasi di setiap gedung perkantoran.
Kehilangan 22 nyawa dalam satu insiden menjadi peringatan keras bahwa teknologi modern, khususnya baterai litium, memiliki potensi bahaya besar bila tidak diimbangi dengan sistem keamanan yang memadai.
Leave a comment