Home Berita Perang Thailand–Kamboja: Konflik Perbatasan Makin Memanas
BeritaInternasional

Perang Thailand–Kamboja: Konflik Perbatasan Makin Memanas

Share
Share

Pemuja.com – Thailand dan Kamboja memiliki sejarah panjang perselisihan terkait wilayah perbatasan, terutama di sekitar kuil kuno Preah Vihear dan kawasan Oddar Meanchey. Sengketa ini telah berulang kali memicu bentrokan militer sejak awal 2000-an.

Meski beberapa kali gencatan senjata disepakati, ketegangan kembali meningkat pada Juli 2025 ketika kedua pihak terlibat pertempuran besar dengan tank, artileri, dan pasukan darat, menewaskan sedikitnya 12 orang.

Kronologi Bentrokan Terbaru

Pada awal Desember 2025, bentrokan kembali pecah di sejumlah titik perbatasan. Militer Kamboja dilaporkan menembakkan roket BM-21 ke wilayah Thailand, sementara Thailand membalas dengan serangan udara menggunakan jet tempur F-16.

Pertempuran meluas ke lima provinsi perbatasan, termasuk Buri Ram dan Ubon Ratchathani. Akibatnya, 10 orang tewas dan lebih dari 140.000 warga sipil terpaksa mengungsi dari daerah rawan.

Warga Thailand Evakuasi Dari Medan Perang
Warga Thailand Evakuasi Dari Medan Perang

Korban dan Dampak Kemanusiaan

Selain korban militer, warga sipil juga menjadi pihak yang paling menderita. Sedikitnya 6 warga Kamboja dilaporkan tewas akibat serangan artileri Thailand.

Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, sementara kamp pengungsian darurat didirikan di wilayah aman. Organisasi internasional menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap warga sipil.

Upaya Diplomasi Terus Dilakukan

Meski gencatan senjata sempat disepakati di Malaysia pada Juli lalu, kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.

Pemerintah Thailand menuding Kamboja memprovokasi dengan serangan roket, sementara Kamboja menuduh Thailand melancarkan serangan udara ke permukiman sipil. Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa konflik akan segera mereda.

Perang Thailand–Kamboja menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Asia Tenggara ketika sengketa perbatasan tidak diselesaikan secara diplomatis.

Kehilangan nyawa, pengungsian massal, dan trauma warga sipil menjadi harga mahal dari konflik yang seharusnya bisa dihindari.

ASEAN Harus Turun Tangan

Peran ASEAN dan komunitas internasional sangat krusial untuk mendorong kedua negara kembali ke meja perundingan dan mencari solusi damai yang berkelanjutan.

Perang di perbatasan Thailand–Kamboja bukan sekadar bentrokan militer, tetapi krisis kemanusiaan yang menuntut perhatian serius.

Dengan korban jiwa dan pengungsian besar-besaran, konflik ini menegaskan pentingnya diplomasi regional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Baca Artikel Lainnya

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

414 Dapur MBG Bermasalah, BGN Kembalikan Rp311,2 Miliar

Pemuja.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengembalikan dana sebesar Rp311,2 miliar ke kas negara setelah menemukan ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau...

Geger! Pilot Penerbangan Internasional Ditangkap Bawa Puluhan Ribu Butir Ekstasi

Pemuja.com – Mengejutkan, seorang pilot maskapai asal Malaysia ditangkap setelah kedapatan membawa puluhan ribu butir ekstasi saat tiba di Indonesia. Kasus ini menjadi...

Related Articles

Wakil Ketua BEM UI Geram Ada Mobil Komando Polisi saat Demo

Pemuja.com – Aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di...

Roy Suryo, Tifa, Febrie Jalani Sidang Praperadilan Hari ini

Pemuja.com – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menggelar sejumlah sidang praperadilan yang...

Yaqut Minta KPK Buka Dasar Kerugian Negara Rp622 Miliar

Pemuja.com – Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta Komisi Pemberantasan Korupsi...

Demo BEM UI Hari Ini, Mahasiswa Bawa 8 Tuntutan

Pemuja.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk...