Pemuja.com – Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Nepal terus menelan korban. Jumlah korban tewas di Nepal kini mencapai 788 orang. Sementara itu, sedikitnya 2.502 orang masih dinyatakan hilang.
Data tersebut disampaikan otoritas penanggulangan bencana Nepal setelah tim penyelamat kembali menemukan sejumlah jenazah di wilayah terdampak. Pencarian korban masih berlangsung di sejumlah lokasi yang tertutup lumpur dan material longsoran.
Bencana terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026. Banjir besar melanda kawasan sepanjang Sungai Bhote Koshi di Distrik Rasuwa, dekat perbatasan Nepal dan China.
Pemerintah Nepal menyebut banjir tersebut juga berdampak pada wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Gorkha. Operasi pencarian, penyelamatan, serta penyaluran bantuan langsung dilakukan setelah bencana terjadi.

Ribuan Orang Masih Belum Ditemukan
Besarnya jumlah orang yang belum ditemukan membuat proses pencarian menjadi prioritas utama pemerintah Nepal.
Tim penyelamat harus menghadapi medan yang sulit. Banyak wilayah tertutup lumpur dan bebatuan. Sejumlah akses jalan dan jembatan juga rusak akibat derasnya aliran air.
Baca Juga : Prabowo Buka dan Tutup Muktamar ke-35 NU di Jombang
Selain korban warga lokal, sejumlah warga negara asing juga dilaporkan belum ditemukan. Kondisi ini membuat proses identifikasi korban menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.
Nepal bahkan mendapat bantuan dari negara tetangga untuk memperkuat operasi pencarian. Tim khusus dari India dikerahkan untuk membantu penyelamatan di lokasi yang sulit dijangkau, termasuk area terowongan pembangkit listrik tenaga air. China juga menyiapkan tim penyelamat untuk membantu operasi di wilayah terdampak.
Bencana Juga Melanda Tibet
Dampak bencana tidak hanya dirasakan Nepal. Wilayah Tibet di China yang berada di sekitar perbatasan juga terdampak banjir dan longsor.
Otoritas China melaporkan sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan 546 orang masih hilang di wilayah Tibet.
Jika korban di Nepal dan Tibet digabungkan, jumlah korban tewas sedikitnya mencapai 804 orang. Angka tersebut masih dapat berubah karena proses pencarian korban terus dilakukan.

Dipicu Banjir Besar di Kawasan Himalaya
Banjir dahsyat tersebut terjadi setelah aliran air, es, dan material batuan bergerak dari kawasan pegunungan Himalaya.
Sejumlah ilmuwan menduga bencana bermula dari runtuhnya batuan di bawah gletser. Material tersebut kemudian membawa es dan air dalam jumlah besar hingga memicu aliran deras menuju lembah dan sungai.
Arus banjir menghantam permukiman, fasilitas pembangkit listrik, jalan, serta jembatan. Material lumpur dan bebatuan kemudian menumpuk di berbagai wilayah.
Kondisi geografis kawasan Himalaya membuat proses evakuasi dan pencarian korban menjadi semakin sulit. Cuaca buruk juga sempat menghambat operasi udara yang dilakukan menggunakan helikopter.
Ancaman Banjir Susulan
Situasi belum sepenuhnya aman. Pemerintah Nepal masih mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Kenaikan permukaan air Sungai Bhotekoshi membuat warga di sejumlah wilayah diminta tetap waspada. Tim penyelamat juga harus memperhitungkan risiko tambahan saat melakukan pencarian di kawasan terdampak.
Pemerintah Nepal menyatakan pemindahan korban selamat ke tempat yang aman menjadi prioritas. Setelah fase tanggap darurat selesai, pemerintah juga menghadapi pekerjaan besar untuk memulihkan infrastruktur dan membantu masyarakat membangun kembali kehidupan mereka.
Besarnya kerusakan membuat pemerintah Nepal memperkirakan kebutuhan pemulihan dapat mencapai miliaran dolar. Pemerintah pun mulai meminta dukungan masyarakat internasional untuk membantu proses penanganan dan rekonstruksi pascabencana.
Baca Artikel Lainnya
- Korban Banjir Nepal Tembus 788 Orang, Ribuan Masih Hilang
- Prabowo Buka dan Tutup Muktamar ke-35 NU di Jombang
- Babak Baru Perang AS-Iran: Perdagangan dan Sistem Keuangan Jadi Medan Pertempuran
- Nahkoda Baru PBNU 2026-2031 Terpilih, Gus Kikin
- Korban Meninggal hingga Pasukan Berikat Kepala Putih, Ini Fakta Pascademo DPR
Leave a comment