Pemuja.com – Indonesia akhirnya mencapai target empat medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Emas keempat datang dari Desak Made Rita Kusuma Dewi. Ia menjadi juara nomor speed putri panjat tebing setelah menang sangat tipis atas atlet China.
Desak mencatat waktu 6,062 detik. Ia hanya unggul 0,002 detik dari Li Juan Deng.
Pencapaian ini tentu patut diapresiasi. Namun, ada gambaran lain yang sulit diabaikan. Jarak perolehan emas Indonesia dengan China terlihat sangat lebar.
Empat Emas Indonesia dari Tiga Cabang
Empat emas Indonesia datang dari tiga cabang olahraga, Emas pertama diraih tim bulu tangkis beregu putra. Emas kedua dipersembahkan Rahmat Erwin Abdullah dari angkat besi kelas 75 kilogram putra.
Emas ketiga kembali datang dari bulu tangkis. Kali ini melalui pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin di nomor ganda putra dan Emas keempat kemudian menjadi milik Desak Made dari panjat tebing nomor speed putri.

Dengan demikian, dua dari empat emas Indonesia berasal dari bulu tangkis. Satu emas datang dari angkat besi dan satu lainnya dari panjat tebing.
Capaian tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki sejumlah cabang yang mampu menjadi tumpuan di level Asia.
Namun, ketika melihat klasemen secara keseluruhan, perbedaannya terasa sangat jauh.
China Sudah 151 Emas
China tampil terlalu dominan di Asian Games 2026.
Hingga 30 September, China sudah mengumpulkan sekitar 151 medali emas. Jumlah tersebut berbanding sangat jauh dengan Indonesia yang baru mengoleksi empat emas.
China juga unggul dalam total perolehan medali. Kekuatan mereka tidak hanya muncul dari satu atau dua cabang olahraga. Kondisi ini membuat jarak antara China dan negara-negara Asia lainnya terlihat semakin lebar.
Indonesia tentu tidak bisa hanya melihat angka tersebut sebagai kekalahan dalam perebutan klasemen, namun ada persoalan lain yang menarik untuk diperhatikan.
Satu Cabang Bisa Menghasilkan Banyak Emas
Ketimpangan perolehan medali di Asian Games juga tidak lepas dari banyaknya nomor yang dipertandingkan dalam satu cabang olahraga. Hal ini harusnya menjadi perhatian pemerintah dan Olympic Council of Asia.
Renang menjadi salah satu contoh paling jelas. Pada Asian Games 2026, terdapat 41 nomor renang yang memperebutkan medali emas. China berhasil menguasai 30 di antaranya.
Artinya, satu cabang saja bisa memberikan puluhan emas kepada satu negara.

Kondisi serupa terlihat di loncat indah. China bahkan menyapu seluruh emas yang tersedia di cabang tersebut.
Dominasi itu tentu merupakan hasil dari kekuatan atlet dan pembinaan China. Kemenangan mereka juga tetap sah karena diraih melalui pertandingan resmi.
Namun, dari sisi penyelenggaraan Asian Games, kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi.
Ketika satu cabang menyediakan puluhan emas, negara dengan kedalaman atlet yang sangat besar memiliki peluang mengumpulkan medali dalam jumlah besar.
Sebaliknya, negara yang kuat di cabang dengan jumlah nomor lebih sedikit memiliki ruang yang lebih terbatas untuk mengejar klasemen.
Di sinilah kesenjangan Asian Games terlihat semakin lebar.
Indonesia Harus Mulai Menghitung Peluang Emas
Bagi Indonesia, kondisi ini juga menjadi pelajaran penting. Pembinaan olahraga tidak cukup hanya bertumpu pada cabang yang selama ini menjadi andalan.
Bulu tangkis terbukti masih menjadi sumber emas. Angkat besi dan panjat tebing juga menunjukkan potensi besar.
Namun, Indonesia perlu memperluas basis peraih emas.
Empat emas Indonesia dibandingkan 151 emas China menunjukkan betapa lebarnya jarak yang harus dikejar.
Asian Games kali ini seharusnya tidak hanya menjadi ajang merayakan kemenangan. Hasilnya juga perlu menjadi bahan evaluasi. Baik bagi Indonesia maupun bagi penyelenggara Asian Games.
Indonesia perlu memperkuat cabang yang memiliki banyak peluang emas.
Sementara Asian Games melalui Olympic Council of Asia juga perlu terus melihat apakah struktur nomor pertandingan sudah mampu menciptakan persaingan yang luas dan kompetitif.
Sebab pada akhirnya, Asian Games bukan hanya tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan emas. Ajang ini juga perlu memperhatikan keseimbangan dan kesetaraan dalam distribusi medali di masing-masing cabang olahraga.
Dengan begitu, persaingan tidak hanya menjadi milik negara yang memiliki kekuatan besar di cabang dengan puluhan nomor pertandingan. Asian Games juga bisa menjadi panggung yang memberi ruang lebih luas bagi negara-negara Asia untuk berkembang dan bersaing.
Baca Artikel Lainnya :
- Awal Oktober Penuh Kejutan, Prabowo Rombak Sejumlah Posisi Strategis
- Pergantian Kapolri Super Cepat, Listyo Sigit Akhirnya Lengser
- Bukan Cuma Soal Perolehan Medali, Ketimpangan Asian Games Perlu Dievaluasi
- DPR Terima Surpres Pergantian Kapolri, Siap Uji Kelayakan
- Usai Disidak DPR, Klaster Mewah Lapas Cibinong Dibongkar
Leave a comment