Pemuja.com – Dugaan pungutan liar layanan Starlink di lokasi bencana banjir Sumatra memicu kecaman publik.
Elon Musk lewat X menegaskan bahwa kebijakan resmi adalah gratis dan tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan dari musibah.
Bantuan Starlink Untuk Korban Bencana
Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX, digratiskan untuk korban banjir dan longsor di Sumatra sebagai bagian dari bantuan darurat.
Pemerintah Indonesia bersama pihak terkait menyalurkan puluhan unit perangkat Starlink untuk mendukung komunikasi di daerah terdampak.
Dugaan Pungutan Liar di Lapangan
Meski seharusnya gratis, sejumlah pengungsi di Langsa, Aceh, melaporkan dikenakan biaya Rp20.000 per jam atau Rp5.000 per lima menit untuk menggunakan hotspot Starlink.
Informasi ini pertama kali mencuat dari unggahan warga di media sosial X, lalu viral dan memicu kemarahan publik. Dugaan kuat muncul bahwa oknum lokal memanfaatkan situasi darurat untuk mencari keuntungan pribadi.

Dampak terhadap Korban Bencana
Praktik pungutan liar ini menambah beban finansial bagi pengungsi yang sudah kehilangan harta benda. Selain itu, akses informasi vital seperti evakuasi, bantuan medis, dan distribusi logistik menjadi terhambat bagi mereka yang tidak mampu membayar. Hal ini menimbulkan ketidakadilan dalam distribusi bantuan dan memperburuk kondisi psikologis korban.
Tanggapan Elon Musk di Media Sosial X
Elon Musk menegaskan melalui akun X bahwa “Kebijakan standar SpaceX adalah menggratiskan Starlink setiap terjadi bencana alam di suatu tempat di dunia. Tidak dibenarkan mengambil keuntungan dari musibah.”.

Ia menambahkan bahwa layanan gratis akan diberikan hingga akhir Desember 2025 bagi korban banjir di Indonesia. Pernyataan ini memperkuat komitmen perusahaan untuk mendukung pemulihan komunikasi tanpa biaya.
Dugaan Sumber Masalah Pungli Starlink
Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), perangkat Starlink yang disalurkan adalah hibah pemerintah dan sepenuhnya gratis.
Dugaan pungutan liar kemungkinan berasal dari oknum lokal yang mengelola akses hotspot dan kemudian menyewakannya kepada pengungsi.
Laporan media menyebutkan praktik ini tidak terkait langsung dengan pihak Starlink atau pemerintah, melainkan ulah individu yang memanfaatkan lemahnya pengawasan.
Kasus dugaan pungutan liar Starlink di lokasi bencana Sumatra menunjukkan rapuhnya sistem pengawasan distribusi bantuan teknologi.
Meski Elon Musk dan pemerintah menegaskan layanan gratis, praktik di lapangan berbeda. Hal ini menegaskan perlunya transparansi, pengawasan ketat, dan penindakan hukum agar korban bencana tidak kembali menjadi pihak yang dirugikan.
Leave a comment