Pemuja.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 yang diselenggarakan di Museum Seni Modern, Rio de Janeiro, Brasil.
Ini menjadi momen bersejarah karena merupakan kehadiran perdana Indonesia dalam forum BRICS sejak bergabung awal tahun ini.

Kedatangan Presiden Prabowo disambut hangat oleh Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, menandai dimulainya peran aktif Indonesia di antara negara-negara anggota BRICS.
Negara BRICS terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan — kini juga termasuk Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya.
Indonesia sebagai Jembatan Global
Dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri RI, Presiden Prabowo membawa misi besar untuk memperkenalkan Indonesia sebagai “bridge builder” dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
Indonesia, sebagai bagian dari Global South sekaligus anggota G20, ingin memastikan bahwa forum BRICS dimanfaatkan untuk mendorong kerja sama internasional yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Presiden Prabowo dijadwalkan menyuarakan posisi Indonesia dalam sejumlah isu strategis global, mulai dari ekonomi, keuangan, pendidikan, hingga teknologi.
Langkah ini sejalan dengan semangat diplomasi Indonesia yang mendorong sinergi dan kolaborasi di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.
BRICS Ditengah Ancaman Tarif dari AS
KTT BRICS 2025 menjadi forum penting bagi para pemimpin dunia untuk membahas berbagai isu mulai dari politik, keamanan internasional, perekonomian global, hingga penguatan peran multilateralisme.
Namun, gelaran ini juga diwarnai dengan ketegangan diplomatik. Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, secara terbuka mengancam akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen bagi negara-negara yang bersekutu dengan kebijakan BRICS, termasuk Indonesia.

“Setiap negara yang bersekutu dengan kebijakan anti-Amerika dari BRICS akan dikenakan tambahan tarif 10 persen. Tidak ada pengecualian,” tegas Trump dalam pernyataannya di media sosial.
Pernyataan Trump tersebut memicu kekhawatiran atas potensi dampak terhadap ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat. Selain itu, langkah ini juga bisa memengaruhi posisi tawar Indonesia dalam forum-forum ekonomi global, termasuk G20 dan WTO.
Meskipun dihadapkan pada ancaman tarif dari AS, Indonesia tetap menunjukkan komitmennya untuk aktif membangun dunia yang lebih seimbang dan inklusif melalui jalur diplomasi multilateral.
Leave a comment