Pemuja.com – Suasana sedih dan haru di sebuah aula sederhana. Ratusan buruh Gudang Garam berkumpul, saling merangkul, mencoba menguatkan diri meski hati mereka hancur. Setelah belasan tahun bekerja, hari itu mereka harus menerima kabar paling pahit: pemutusan hubungan kerja.
Suasana haru itu terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial. Walaupun video ini masih dicari kebenarannya, namun wajah-wajah lelah bercampur dengan air mata tadi menjadi potret nyata betapa sulitnya mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi yang semakin menekan.

Ironisnya, peristiwa menyedihkan ini terjadi di saat Wakil Presiden Gibran pernah berjanji akan membuka 19 juta lapangan kerja baru. Janji manis yang diucapkan dengan nada sombong itu terasa jauh panggang dari api, karena yang terjadi justru ribuan orang kehilangan pekerjaan.
Publik pun mulai bertanya-tanya, apakah janji tersebut nyata atau sekadar omong kosong untuk meraih suara saat Pilpres lalu?
Daftar Panjang Buruh Korban PHK
Kasus Gudang Garam walaupun masih perlu di verifikasi kebenarannya, hanyalah satu dari sekian banyak gelombang PHK massal yang melanda industri nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, sejumlah perusahaan besar juga terpaksa memangkas karyawannya karena tekanan ekonomi:
- PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex): perusahaan tekstil raksasa di Solo terpaksa melakukan PHK ribuan buruh akibat lilitan utang dan penurunan permintaan ekspor.
- Industri tekstil dan garmen lain di Jawa Barat juga tak luput dari efisiensi besar-besaran akibat melemahnya daya beli dan serbuan produk impor murah.
- Perusahaan ritel modern turut mengurangi tenaga kerja karena banyak gerai tutup pasca-pandemi.
Kini, Gudang Garam menambah panjang daftar itu dengan ribuan pekerja yang harus merelakan seragam mereka digantung untuk terakhir kali.
Kinerja Keuangan yang Anjlok
Laporan keuangan terakhir mencatat penurunan pendapatan hingga lebih dari 11 persen. Laba bersih bahkan merosot lebih dari 80 persen dibanding tahun sebelumnya. Segmen utama seperti sigaret kretek mesin dan sigaret kretek tangan mengalami penurunan tajam.
Angka-angka tersebut menggambarkan jelas betapa beratnya tekanan yang dihadapi industri. Buruh pun menjadi korban paling nyata dari turunnya performa perusahaan.
Buruh Menjerit, Janji Tinggal Janji
Bagi para buruh, pekerjaan di Gudang Garam bukan sekadar rutinitas, melainkan sumber penghidupan keluarga. Kini, harapan itu terenggut dalam sekejap.
Jika benar terjadi PHK massal di Gudang Garam, ini bukan sekadar persoalan internal perusahaan, melainkan cermin rapuhnya kebijakan ekonomi nasional.
Di sisi lain, publik tak bisa menahan kritik pedas terhadap pemerintah. Janji menyediakan jutaan lapangan kerja baru kini terasa kontras dengan kenyataan pahit:
Industri justru berguguran dan ribuan orang terpaksa menganggur, meninggalkan buruh dalam kesedihan dan ketidakpastian.
Baca Artikel Lainnya
- Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan hingga 24 Maret Selama Libur Lebaran
- Kemacetan “Horor” di Gilimanuk, Antrean Tembus Puluhan Kilometer
- Pemerintah Siapkan Pangkas Anggaran, Jaga Defisit Tetap Aman
- Video Benjamin Netanyahu Diduga Janggal, Hasil Deepfake AI?
- Pasca disiram Air Keras, Andrie Yunus Masih Dirawat Intensif
Leave a comment