Pemuja.com – Akhir November 2025 menjadi masa penuh duka bagi masyarakat Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat usai bencana alam menggempur daerah tersebut.
Hujan deras yang turun berhari-hari memicu banjir besar dan longsor di sejumlah wilayah.

Di Sumatera Utara, bencana melanda Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal, Serdang Bedagai, Nias, Humbahas, Tapanuli Utara dan Kota Padang Sidempuan.
Banjir merendam permukiman warga serta menutup akses jalan utama serta memutus jalan lintas provinsi.
Di Sumatera Barat, sebaran banjir dan longsor terjadi di 13 daerah, antara lain Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Tanah Datar, Agam, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, dan Kota Bukittinggi. Selain itu juga ada Kota Solok, Padang Panjang, Limapuluh Kota, dan Pasaman.
Sementara itu, di Aceh, banjir meluas ke lebih dari sepuluh kabupaten/kota, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Langsa, Lhokseumawe, Bireuen, Pidie Jaya, Pidie, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, dan Aceh Selatan. Kondisi ini membuat ribuan warga harus mengungsi ke posko darurat.
Kronologi Bencana
Di Aceh, hujan deras mulai mengguyur sejak 18 November 2025. Debit air yang terus meningkat menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman.
Pada 26 November, banjir semakin meluas, menutup jalan lintas nasional dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Longsor juga terjadi di beberapa titik, menambah kerusakan dan korban. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) kemudian menetapkan status darurat banjir di sepuluh daerah.
Sementara itu, di Sumatera Utara, curah hujan tinggi pada 25 November memicu banjir dan longsor di enam daerah, termasuk Sibolga, yang mengalami kerugian material cukup besar.

Korban dan Dampak Bencana Sumut
Data resmi mencatat bahwa di Aceh, bencana ini menelan korban jiwa sebanyak dua orang.
Selain itu, 1.497 jiwa harus mengungsi, sementara total warga terdampak mencapai lebih dari 46 ribu jiwa dari 14 ribu kepala keluarga.
Ribuan rumah, fasilitas umum, dan lahan pertanian terendam air. Di Sumatera Utara, pendataan masih berlangsung, namun kerugian material dan jumlah warga terdampak cukup signifikan.
Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.
Solidaritas dan Seruan Doa Masyarakat
Tagar #PrayForSumateraUtara dan #PrayForAceh ramai bergema di media sosial. Masyarakat dari berbagai daerah mengirimkan doa, dukungan moral, dan bantuan nyata bagi para korban.
Seruan ini bukan sekadar tren digital, melainkan wujud solidaritas yang memperlihatkan bahwa kepedulian lintas daerah dan agama tetap hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Doa menjadi penguat bagi korban, sementara aksi nyata berupa donasi dan relawan menjadi bukti kepedulian yang lebih luas.

Asa Setelah Bencana Alam
Bencana ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga lingkungan. Banyak pihak menyoroti pembabatan hutan dan lemahnya sistem drainase sebagai faktor yang memperparah dampak banjir dan longsor.
Seruan doa untuk Sumatera Utara dan Aceh tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi panggilan moral agar pembangunan selalu memperhatikan keseimbangan ekosistem.
Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat mitigasi bencana dan menjaga kelestarian alam.
Leave a comment