Home Berita Dilabel “Keluarga Miskin”, Warga Mundur Dari Program Bansos
BeritaNasional

Dilabel “Keluarga Miskin”, Warga Mundur Dari Program Bansos

Share
Share

Pemuja.com – Sebuah kebijakan baru dari Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang memicu gelombang pengunduran diri dari program bantuan sosial (bansos).

Dalam dua hari pelaksanaan program penempelan stiker bertuliskan “Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial” di rumah-rumah penerima manfaat, tercatat lebih dari 300 keluarga memilih mundur secara sukarela.

Tujuan Program Bansos

Program ini diluncurkan pada 20 Oktober 2025 oleh Dinas Sosial Kepahiang sebagai bagian dari upaya verifikasi dan validasi data penerima bansos.

Kepala Dinsos, Helmi Johan, menyatakan bahwa penempelan stiker bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan mendorong kejujuran masyarakat dalam menerima bantuan.

“Kami ingin masyarakat yang benar-benar membutuhkan yang menerima bantuan. Stiker ini menjadi alat kontrol sosial,” ujar Helmi Johan.

Warga Penerima Bansos Mundur setelah rumahnya dilabeli "keluarga miskin"

Efek Sosial dan Moral Program

Namun, dampak sosial dari kebijakan ini cukup signifikan. Banyak warga merasa malu atau tidak nyaman rumahnya dilabeli sebagai “keluarga miskin”.

Beberapa bahkan diketahui memiliki kendaraan pribadi atau aset lain yang tidak sesuai dengan kriteria penerima bansos.

Fenomena ini memunculkan perdebatan publik. Sebagian pihak mendukung langkah ini sebagai cara efektif untuk membersihkan data bansos dari penerima tidak layak. Di sisi lain, ada yang menilai pendekatan ini terlalu memojokkan dan bisa menimbulkan stigma sosial.

Hasil Sementara Kebijakan Program Bansos

  • Lebih dari 300 KPM (Keluarga Penerima Manfaat) mundur dalam dua hari pertama pelaksanaan.
  • Pengunduran diri terjadi secara sukarela, tanpa paksaan dari petugas.
  • Program ini dinilai berhasil menumbuhkan kesadaran moral dan sosial.

Kebijakan penempelan stiker “Keluarga Miskin” di Kabupaten Kepahiang menjadi contoh bagaimana pendekatan administratif bisa berdampak langsung pada perilaku sosial masyarakat.

Meski menuai pro dan kontra, langkah ini menunjukkan bahwa transparansi dan rasa malu sosial bisa menjadi alat efektif dalam menata ulang distribusi bansos

Baca Artikel Lainnya :

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don't Miss

Ricuh di Prancis, Massa Bakar Balai Kota dan Jarah Toko

Pemuja.com – Kerusuhan melanda sejumlah wilayah di Prancis setelah demonstrasi berujung aksi kekerasan. Massa membakar bangunan pemerintah, merusak fasilitas umum, hingga menjarah sejumlah...

Selamat Ulang Tahun ke-75 Pak Prabowo, Kado Pahit Menanti

Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto hari ini genap berusia 75 tahun. Lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, Prabowo telah melewati perjalanan panjang...

Related Articles

Prabowo Pecat Listyo Sigit dari Kepala Staf Kepresidenan

Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto resmi memberhentikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari...

Penyadapan Prabowo, LSP & 2 Jenderal Polri Jadi Tersangka

Pemuja.com – Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan...

Korut Dituduh Bobol Binance Rp114 Triliun, Adik Kim Jong-un Murka

Pemuja.com – Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, mengecam...

Gerindra Bahas Polemik Ijazah Gibran, Ikut Memakzulkan?

Pemuja.com – Partai Gerindra akan menentukan sikap terkait polemik keabsahan dokumen pendidikan...