Pemuja.com – Ketegangan di tubuh Nahdlatul Ulama kembali memuncak. Setelah Majelis Syuriyah meminta Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mundur, dinamika semakin cepat bergerak menuju rapat pleno pada 9 Desember yang disebut akan menjadi titik penentu arah organisasi.
Gus Yahya menegaskan tidak akan mundur. Ia menyebut mandat Muktamar harus dijalankan sampai tuntas lima tahun masa khidmat. Situasi ini menimbulkan kegelisahan sekaligus perhatian besar di kalangan Nahdliyin.

Rencana Besar di 9 Desember
Agenda 9 Desember disebut sebagai rapat pleno penting untuk menentukan langkah lanjutan. Salah satu poin yang disorot adalah kemungkinan munculnya pejabat sementara Ketua Umum, jika posisi Gus Yahya dinilai lowong akibat keputusan Syuriyah.
Namun ada beberapa pihak meminta pleno ditunda. Para sesepuh NU menyebut proses yang berjalan terlalu cepat dan belum memenuhi tata kelola organisasi sesuai AD/ART. Suara ini menandakan adanya keinginan agar penyelesaian persoalan berjalan lebih hati-hati.
Ketua PBNU Tolak Mundur!
Gus Yahya membantah semua tuduhan pelanggaran. Ia menilai risalah Syuriyah yang meminta dirinya mundur cacat prosedur dan tidak memiliki dasar kewenangan. Baginya, jabatan Ketua Umum hanya dapat berubah melalui mekanisme Muktamar.
Ia juga menyebut keputusan tersebut mengabaikan klarifikasi yang sudah ia berikan. Karena itu, ia menilai posisinya tetap sah sampai akhir masa jabatan.

Syuriyah NU Tetap Pada Keputusan
Di sisi lain, Syuriyah NU menilai langkah meminta Ketua Umum mundur sudah sesuai dengan temuan internal. Mereka menegaskan rapat pleno harus tetap berjalan sesuai jadwal.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan adanya jarak antara struktur pengurus harian dan Syuriyah yang semakin melebar.

Suara Sesepuh dan Tokoh NU
Para sesepuh meminta proses ditunda. Mereka ingin penyelesaian dilakukan secara lebih tertib agar tidak menimbulkan perpecahan di akar rumput. Tokoh-tokoh NU juga menunjukkan kekhawatiran.
Di tengah dinamika ini, banyak pihak berharap konflik tidak merusak pondasi organisasi yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan umat.
Ke Mana Arah NU Setelah Ini?
Situasi menuju 9 Desember masih cair. Pleno bisa berjalan atau justru ditunda. Jika pleno tetap dilaksanakan, kemungkinan muncul dualisme kepemimpinan makin terbuka. Jika ditunda, tensi konflik mungkin mereda, meski belum menyentuh akar persoalan.
Kembali ke pertanyaan besar sebelumnya : apakah NU akan menemukan jalan islah, atau justru memasuki fase baru dengan perpecahan struktural?
Leave a comment