Home Berita Istana Angkat Bicara soal Aktivitas Teror : “Jangan ada Intimidasi”
BeritaNasional

Istana Angkat Bicara soal Aktivitas Teror : “Jangan ada Intimidasi”

Share
Share

Pemuja.com – Respons Istana dan pemerintah terhadap tindakan teror yang menimpa influencer dan aktivis tanah air kini menjadi sorotan publik.

Peristiwa ini dianggap sebagai ancaman terhadap kebebasan berekspresi di era demokrasi modern, terutama ketika kritik terhadap kebijakan pemerintah semakin intens di ruang digital dan nyata.


Rentetan Aksi Teror yang Membuat Keprihatinan

Beberapa influencer dan aktivis dilaporkan menerima berbagai bentuk ancaman dalam beberapa pekan terakhir setelah mereka menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana dan kebijakan publik.

Kasus-kasus itu termasuk pengiriman bangkai ayam ke rumah aktivis Iqbal Damanik, ancaman tulisan di kertas yang disertakan bersama kiriman tersebut.

Vandalisme terhadap kendaraan Influencer Sherly Annavita, hingga pelemparan bom molotov ke kediaman DJ Donny.

Para korban dan pendukung mereka menilai aksi teror tersebut tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi merupakan upaya untuk membungkam suara kritis dan intimidasi terhadap partisipasi publik yang konstruktif.


Istana Angkat Suara & Tuntut Penegakan Hukum

Menanggapi insiden itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan keprihatinan Istana terhadap teror yang menimpa pemengaruh media sosial dan aktivis.

Ia menegaskan pemerintah tidak menghendaki praktik teror dalam bentuk apa pun, dan meminta pihak berwenang untuk menginvestigasi kasus ini.

“‎Iya dong, prihatin. Masa hari begini?” ujarnya, seraya menekankan perlunya penyampaian kritik melalui jalur yang baik dan terstruktur.

Prasetyo juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto turut prihatin atas dugaan praktik teror yang terjadi.

Ia meminta semua pihak untuk melihat masalah ini sebagai bagian dari proses pendewasaan demokrasi bangsa.

Sekretariat Istana

Pemerintah dan Istana Tegaskan Kebebasan Berekspresi

Badan Komunikasi Pemerintah RI juga secara tegas menyatakan bahwa pemerintah menolak dan mengecam segala bentuk intimidasi, ancaman, atau teror.

Mereka sangat menyayangkan kejadian teror yang menyasar konten kreator dan aktivis yang vokal mengkritik kebijakan.

Mereka menegaskan bahwa kebebasan berekspresi adalah hak konstitusional yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa insiden teror itu dialami oleh beberapa figur berbeda, termasuk DJ Donny, Sherly Annavita, dan aktivis Iqbal Damanik yang masing-masing mengalami bentuk intimidasi beragam di akhir Desember lalu.


Suara Komnas Perempuan & Kelompok Masyarakat Sipil

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga menyatakan keprihatinannya atas ancaman dan teror yang dialami influencer serta aktivis.

Komnas menyebut ancaman semacam itu berpotensi membungkam kritik yang justru sangat diperlukan, terutama di tengah situasi darurat seperti penanganan bencana yang menjadi latar kritik banyak pihak.

Kelompok masyarakat sipil lainnya, seperti Gerakan Rakyat, juga mengecam keras rentetan aksi teror ini. Mereka menilai kejadian tersebut sebagai serangan serius terhadap demokrasi dan kebebasan berbicara, khususnya bagi generasi muda yang vokal menyuarakan opininya.


Ancaman bagi Demokrasi & Kebebasan Bereksprasi

Para pengamat dan pemangku kepentingan hak asasi manusia menilai rentetan aksi teror itu tidak bisa dilihat sebagai kejadian individual semata.

Fenomena – fenomena Teror intimidasi tersebut berpotensi menghambat partisipasi masyarakat dalam kehidupan publik.

Mereka menekankan bahwa suara kritis dalam masyarakat adalah bagian penting dari kontrol sosial yang sehat dalam sebuah negara demokratis.


Istana Kepresidenan :Teror yang Tak Layak Ada di Era Modern

Insiden teror yang menimpa influencer dan aktivis di Indonesia telah membuka dialog penting tentang batasan kebebasan berpendapat dan perlindungan terhadap hak individu untuk menyampaikan kritik.

Respons dari Istana, pemerintah, dan lembaga masyarakat sipil menunjukkan adanya kesadaran bersama bahwa intimidasi semacam ini tidak sesuai dengan nilai demokrasi dan hukum yang berlaku.

Namun demikian, langkah selanjutnya seperti investigasi yang tuntas dan penegakan hukum yang adil tetap menjadi tolok ukur utama untuk memastikan bahwa setiap warga negara dapat bersuara tanpa rasa takut.

Baca Artikel Lainnya :

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don't Miss

Ricuh di Prancis, Massa Bakar Balai Kota dan Jarah Toko

Pemuja.com – Kerusuhan melanda sejumlah wilayah di Prancis setelah demonstrasi berujung aksi kekerasan. Massa membakar bangunan pemerintah, merusak fasilitas umum, hingga menjarah sejumlah...

Selamat Ulang Tahun ke-75 Pak Prabowo, Kado Pahit Menanti

Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto hari ini genap berusia 75 tahun. Lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, Prabowo telah melewati perjalanan panjang...

Related Articles

Prabowo Pecat Listyo Sigit dari Kepala Staf Kepresidenan

Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto resmi memberhentikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari...

Penyadapan Prabowo, LSP & 2 Jenderal Polri Jadi Tersangka

Pemuja.com – Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan...

Korut Dituduh Bobol Binance Rp114 Triliun, Adik Kim Jong-un Murka

Pemuja.com – Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, mengecam...

Gerindra Bahas Polemik Ijazah Gibran, Ikut Memakzulkan?

Pemuja.com – Partai Gerindra akan menentukan sikap terkait polemik keabsahan dokumen pendidikan...