Pemuja.com – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal damai terbaru dari Iran.
Penolakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan konflik di Timur Tengah serta terganggunya distribusi energi global melalui Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent dilaporkan naik lebih dari 3 persen hingga menembus kisaran USD104–105 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak mendekati USD99 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah pasar menilai peluang tercapainya perdamaian antara AS dan Iran semakin kecil.
Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian AS sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.
Iran sebelumnya mengajukan sejumlah syarat, termasuk penghentian perang, pencabutan sanksi ekonomi AS, hingga pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz Jadi Kunci Perdagangan Minyak
Ketegangan meningkat karena Selat Hormuz masih mengalami gangguan aktivitas pelayaran. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute distribusi paling penting di dunia.
Penutupan atau pembatasan akses di wilayah itu membuat pasokan energi global terganggu dan memicu lonjakan harga minyak internasional.
Sejumlah laporan menyebut kapal tanker minyak mulai mengurangi aktivitas melintas di kawasan tersebut akibat ancaman konflik militer. Bahkan beberapa kapal disebut mematikan sistem pelacakan demi menghindari risiko serangan.

Dampak Kenaikan Harga Minyak ke Pasar Global
Lonjakan harga minyak juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Investor mulai mengantisipasi kenaikan biaya energi yang dapat berdampak pada harga bahan bakar, transportasi, hingga sektor industri di berbagai negara. Bursa saham AS pun bergerak melemah menyusul meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Analis energi memperingatkan bahwa apabila konflik terus berlanjut dan jalur distribusi minyak tetap terganggu dan harganya di dunia berpotensi menembus level yang lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Netanyahu Tegaskan Konflik Belum Berakhir
Di tengah upaya diplomasi yang masih buntu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang dengan Iran belum akan berakhir sebelum ancaman program nuklir Iran diselesaikan.
Pernyataan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Baca Artikel Lainnya :
- Erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara Tewaskan 3 Pendaki
- Trump Tolak Proposal Damai Iran, Harga Minyak Mentah Melonjak
- Markas Judi Online Internasional Digerebek di Jakarta Barat, 321 WNA Diamankan
- Waspada Hantavirus, Dunia Soroti Dugaan Mutasi Virus di Kapal Pesiar
- Konflik Baru dalam Perang Rusia–Ukraina, Usulan AS Jadi Sorotan
Leave a comment