Pemuja.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tantangan politik setelah koalisi yang dipimpinnya gagal meraih mayoritas kursi parlemen dalam hasil sementara pemilihan umum Israel.
Meski unggul dari kubu oposisi, Netanyahu masih harus berjuang mengamankan dukungan politik untuk membentuk pemerintahan berikutnya.
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel hingga Rabu malam, 28 Oktober 2026, setelah sekitar 89,8 persen suara terhitung, koalisi Netanyahu meraih 53 kursi di parlemen atau Knesset. Sementara itu, kubu oposisi pimpinan Gadi Eisenkot memperoleh 48 kursi.
Adapun partai-partai Arab Israel diperkirakan mengamankan 19 kursi dari total 120 kursi Knesset. Perolehan tersebut menempatkan partai-partai Arab pada posisi strategis dalam menentukan arah pembentukan pemerintahan baru.
Hasil sementara ini menunjukkan bahwa kedua kubu utama belum memenuhi syarat mayoritas, yakni sedikitnya 61 kursi. Karena itu, persaingan politik di Israel belum berakhir meskipun penghitungan suara telah menunjukkan keunggulan sementara bagi koalisi Netanyahu.

Netanyahu Unggul, tetapi Belum Aman
Koalisi Netanyahu terdiri atas Partai Likud, Shas, United Torah Judaism, Otzma Yehudit, dan Religious Zionism. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Eisenkot mencakup Partai Yashar, B’Yachad, Partai Demokrat, dan Yisrael Beytenu.
Dalam penghitungan sementara, Partai Likud yang menaungi Netanyahu menjadi partai dengan perolehan kursi terbesar, yakni 26 kursi. Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot menyusul dengan 21 kursi.
Namun, keunggulan tersebut belum menjamin Netanyahu dapat melanjutkan kepemimpinannya. Ia masih membutuhkan dukungan tambahan untuk mengamankan mayoritas di parlemen.
Sebaliknya, Eisenkot juga menghadapi tantangan serupa. Kubu oposisi perlu merangkul partai-partai lain, terutama partai Arab Israel, jika ingin mengumpulkan dukungan yang cukup untuk membentuk pemerintahan.
Partai Arab Israel Berpotensi Jadi Penentu
Perolehan 19 kursi oleh partai-partai Arab Israel menjadi salah satu faktor penting dalam hasil pemilu kali ini. Jumlah tersebut berpotensi menjadikan mereka penentu dalam negosiasi pembentukan koalisi.
Kubu oposisi secara matematis dapat mencapai mayoritas apabila berhasil memperoleh dukungan dari partai-partai Arab dan mempertahankan kesepakatan di antara para mitranya. Namun, langkah tersebut tidak mudah karena perbedaan pandangan politik dapat mempersulit proses negosiasi.
Di sisi lain, Netanyahu juga harus mempertimbangkan pilihan untuk memperluas dukungan politiknya. Negosiasi dengan partai lain atau pembentukan pemerintahan persatuan menjadi beberapa skenario yang dapat memengaruhi arah politik Israel.
Dengan demikian, hasil pemilu tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi yang diperoleh masing-masing kubu, tetapi juga kemampuan para pemimpin politik membangun kesepakatan setelah pemungutan suara.

Penghitungan Suara Masih Berlanjut
Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel masih melanjutkan penghitungan sejumlah surat suara yang belum masuk dalam rekapitulasi sementara. Surat suara tersebut antara lain berasal dari tentara, narapidana, diplomat di luar negeri, serta pemilih lain yang memberikan suara melalui mekanisme khusus.
Jumlah surat suara dalam amplop ganda yang belum dihitung diperkirakan mencapai 430.000 hingga 480.000 suara. Proses penghitungan dan verifikasi diperlukan untuk memastikan setiap suara tercatat secara sah.
Hasil akhir pemilu dijadwalkan diumumkan setelah seluruh tahapan penghitungan selesai. Karena itu, komposisi kursi parlemen masih dapat mengalami perubahan meskipun hasil sementara menunjukkan keunggulan koalisi Netanyahu.
Pemilu kali ini menjadi ujian politik bagi Netanyahu di tengah kritik terhadap penanganan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, perang di Gaza, serta perdebatan mengenai kebijakan keamanan dan kewajiban dinas militer bagi kelompok ultra-Ortodoks.
Meski belum mengamankan mayoritas, Netanyahu masih memiliki peluang untuk membentuk pemerintahan melalui negosiasi politik. Sementara itu, kubu Eisenkot berupaya memanfaatkan hasil pemilu untuk menggalang dukungan dan membuka jalan bagi pergantian kepemimpinan.
Dengan belum adanya kubu yang mencapai 61 kursi, masa depan pemerintahan Israel kini bergantung pada hasil akhir penghitungan suara dan kesepakatan antarpartai dalam beberapa pekan mendatang.
Leave a comment