Pemuja.com – Sejarah baru tercipta dalam politik Amerika Serikat. Abdul El-Sayed berhasil memenangkan pemilihan Senat AS dari Negara Bagian Michigan pada Selasa (3/11/2026). Kemenangan tersebut menjadikannya Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Amerika Serikat sepanjang sejarah negara itu.
Politikus Partai Demokrat berusia 42 tahun tersebut berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik, Mike Rogers, mantan anggota DPR AS sekaligus mantan agen FBI. Kemenangan El-Sayed sekaligus mempertahankan kursi Demokrat yang sebelumnya ditempati Senator Gary Peters.
Namun, perjalanan El-Sayed menuju Capitol Hill tidak berjalan mudah. Sepanjang kampanye, dia menghadapi serangan politik yang tidak hanya menyasar gagasan dan program kerjanya, tetapi juga agama serta identitas keluarganya.
Presiden Donald Trump bahkan berkali-kali melontarkan pernyataan kontroversial terhadap El-Sayed. Trump menggunakan identitas Muslim sang kandidat untuk membangun narasi ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Meski menghadapi tekanan tersebut, El-Sayed berhasil memenangkan persaingan. Kemenangannya menjadi pukulan bagi strategi politik Partai Republik yang menjadikan identitas agama sebagai salah satu senjata dalam kampanye di Michigan.

Donald Trump Serang Identitas Muslim El-Sayed
Perseteruan El-Sayed dengan kubu Donald Trump semakin memanas menjelang pemungutan suara. Trump secara terbuka menyerang identitas keagamaan El-Sayed ketika berkampanye untuk mendukung kandidat Republik, Mike Rogers.
Dalam kampanye di Port Huron, Michigan, pada 25 Oktober 2026, Trump menyebut El-Sayed sebagai seorang “jihadis”. Dia juga menuding kandidat Demokrat tersebut memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin atau Muslim Brotherhood.
Trump bahkan mengaitkan El-Sayed dengan serangan teroris 11 September 2001. Dia mengajak pendukungnya menolak pencalonan El-Sayed dengan membandingkan ancaman yang dituduhkan kepada sang kandidat dengan para pelaku serangan 9/11.
Tidak berhenti di situ, Trump juga melontarkan sindiran mengenai keamanan gedung Senat jika El-Sayed berhasil memenangkan pemilihan.
“Dia akan menjadi satu-satunya senator yang harus melewati detektor logam sebelum diizinkan masuk Senat,” kata Trump dalam salah satu serangan kampanyenya.
Pernyataan tersebut memicu kritik karena Trump seolah menggambarkan seorang kandidat Muslim sebagai ancaman keamanan hanya berdasarkan identitas agamanya.
Trump juga mempertanyakan loyalitas El-Sayed terhadap Amerika Serikat. Padahal, El-Sayed lahir di AS dari keluarga imigran Mesir dan telah berkali-kali membantah tuduhan keterlibatan dengan kelompok ekstremis.

Partai Republik Ikut Pertanyakan Loyalitas El-Sayed
Serangan terhadap El-Sayed tidak hanya datang dari Trump. Sejumlah tokoh Partai Republik juga ikut mempertanyakan hubungan sang kandidat dengan kelompok Islam dan kesetiaannya kepada Amerika Serikat.
Wakil Presiden JD Vance, misalnya, pernah menyebut El-Sayed sebagai sosok yang sangat jahat atau “very, very evil”. Pernyataan tersebut muncul setelah perdebatan mengenai respons El-Sayed terhadap serangan di sebuah sinagoge di Michigan.
Sementara itu, Mike Rogers juga mempertanyakan loyalitas El-Sayed dalam debat terakhir mereka menjelang pemilihan.
“Apakah Anda berpihak kepada Amerika, atau kepada kelompok teroris di luar negeri?” tanya Rogers dalam debat tersebut.
El-Sayed menilai pertanyaan itu memalukan. Dia kemudian menegaskan bahwa konstitusi Amerika Serikat menjamin kebebasan setiap warga negara untuk menjalankan agama sesuai keyakinannya.
Tuduhan hubungan El-Sayed dengan Muslim Brotherhood juga tidak disertai bukti yang menunjukkan keterlibatan dirinya dalam organisasi tersebut. El-Sayed berulang kali membantah tuduhan itu.
Rentetan pernyataan tersebut memunculkan kritik dari sejumlah kelompok masyarakat Muslim dan organisasi hak sipil. Mereka menilai Trump dan sejumlah politisi Republik menggunakan sentimen anti-Muslim untuk membangun ketakutan di tengah masyarakat.
Balas Trump dengan Sebutan Senator Muhammad
Alih-alih terus meladeni serangan Trump, El-Sayed beberapa kali membalas sindiran tersebut dengan humor dan pernyataan yang menyentil lawan politiknya.
Dalam sebuah kampanye di Grand Rapids pada 25 Oktober 2026, El-Sayed menanggapi kebiasaan Trump yang mempermasalahkan nama dan identitas Muslimnya.
Dia bahkan menyampaikan bahwa Trump tidak perlu repot mengingat seluruh namanya karena masyarakat nantinya bisa memanggilnya senator.
“Saya bahkan tidak peduli apakah dia mengingat seluruh nama saya, karena setelah November dia bisa memanggil saya ‘Senator Muhammad’,” ujar El-Sayed yang langsung mendapat sambutan meriah dari pendukungnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen yang menonjol dalam kampanyenya. El-Sayed seolah mengubah sindiran terhadap identitas Muslimnya menjadi simbol kebanggaan atas sejarah yang ingin dia ciptakan.

El-Sayed Jadi Pukulan bagi Strategi Politik Trump
Kemenangan El-Sayed memperlihatkan bahwa serangan berbasis identitas agama tidak berhasil menghentikan langkahnya menuju Senat AS.
Selama kampanye, El-Sayed justru lebih banyak menawarkan program yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Dia mengusung layanan kesehatan universal melalui Medicare for All, penurunan biaya hidup, serta pembatasan pengaruh perusahaan besar dalam politik Amerika.
El-Sayed juga mengambil sikap kritis terhadap kebijakan Amerika Serikat yang memberikan bantuan militer kepada Israel. Dia menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida, sebuah posisi yang turut memicu kontroversi selama kampanye.
Dalam pidato kemenangannya, El-Sayed menyinggung perjuangan panjang yang dia lalui untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat Michigan.
Kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan seorang politikus Demokrat mengalahkan kandidat Republik. El-Sayed juga membuka babak baru bagi keterwakilan Muslim dalam lembaga legislatif tertinggi Amerika Serikat.
Dengan kemenangan tersebut, El-Sayed akan mencatat sejarah ketika mulai menjalankan tugasnya sebagai senator pada Januari 2027. Dia membuktikan bahwa identitas Muslim tidak menghalangi seorang warga Amerika untuk meraih jabatan politik tertinggi di negaranya.
Leave a comment