Pemuja.com – Kota Depok kembali menjadi sorotan. Bukan karena prestasi atau pelayanan publik. Penangkapan Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Depok justru memunculkan kegelisahan baru tentang kondisi penegakan hukum.
Guncang Kepercayaan Publik
Penangkapan Ketua PN Depok, I Wayan Eka Mariarta dan Wakil Ketua PN Depok, Bambang Setyawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi pukulan keras bagi dunia peradilan. Dua pimpinan lembaga hukum yang seharusnya menjaga keadilan justru diduga terlibat praktik suap.

Kasus ini memperlihatkan bahwa persoalan integritas masih menjadi masalah serius. Jabatan tinggi dan kewenangan besar belum tentu sejalan dengan tanggung jawab moral.
Dugaan Suap dan Luka Lama Dunia Peradilan
Perkara ini berawal dari dugaan suap dalam penanganan sengketa lahan. Uang dalam jumlah besar diduga diberikan untuk mempengaruhi proses hukum. Fakta tersebut kembali menguatkan kecurigaan publik tentang praktik jual beli perkara.
Ruang sidang yang seharusnya netral kini kembali dipertanyakan. Jika hukum dapat ditawar, maka keadilan kehilangan maknanya.
Baca Juga : https://pemuja.com/2026/02/10/dirut-komisaris-dsi-ditangkap-buntut-penipuan-rp24-triliun
Proses Hukum Berlanjut di KPK
Hingga saat ini, KPK telah menetapkan lima orang sebagai tersangka. Selain Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, terdapat pula juru sita serta dua pihak dari luar pengadilan. Seluruh tersangka telah ditahan untuk kepentingan penyidikan.
KPK masih mendalami aliran dana dan peran masing-masing pihak. Tidak tertutup kemungkinan adanya tersangka baru jika ditemukan bukti tambahan. Proses penyidikan disebut masih berjalan dan belum selesai.
Langkah Mahkamah Agung
Mahkamah Agung telah memberhentikan sementara Ketua dan Wakil Ketua PN Depok. Izin penahanan juga telah diberikan. Langkah ini diambil untuk menjaga kredibilitas lembaga peradilan.
Namun, langkah administratif saja dinilai belum cukup. Kasus ini kembali membuka pertanyaan lama soal efektivitas pengawasan internal di lingkungan peradilan.

Reformasi yang Kembali Dipertanyakan
Penangkapan ini terasa ironis. Reformasi peradilan telah lama digaungkan. Gaji dan kesejahteraan hakim ditingkatkan. Sistem pengawasan diperkuat. Namun, kasus serupa terus berulang.
Publik pun bertanya. Apakah reformasi hanya berhenti pada aturan, tanpa menyentuh budaya dan mental aparat hukum.
Menanti Pembenahan yang Nyata
Kasus PN Depok menjadi alarm keras bagi penegakan hukum. Bukan hanya soal menghukum pelaku, tetapi juga membenahi sistem secara menyeluruh.
Kepercayaan publik sedang diuji. Masyarakat kini menunggu langkah nyata agar pengadilan kembali menjadi tempat mencari keadilan, bukan ruang transaksi.
Leave a comment