Pemuja.com – Tepat 28 Oktober 2025, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97. Hampir seabad sejak para pemuda berkumpul di Batavia dan berikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, tantangan hari ini jelas berbeda.

Jika dulu perjuangan dilakukan di ruang rapat dengan pena dan tekad, kini generasi muda berjuang lewat layar, koneksi, dan algoritma. Di tengah dunia yang serba cepat dan sibuk dengan notifikasi, pesan Sumpah Pemuda tetap relevan: bergerak, bukan hanya bicara.
Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun ini mengusung tema “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”. Seruan ini menjadi pengingat agar semangat kebersamaan tidak tenggelam dalam arus individualisme dan dunia maya yang kerap memecah perhatian.
Gen Z dan Tantangan Bergerak di Dunia Nyata
Banyak sekolah, komunitas, dan kampus menandai peringatan ini dengan cara kreatif. Instansi pemerintah dan pendidikan melakukan upacara bendera, namun banyak juga yang membuat video sejarah di TikTok, kampanye sosial, hingga aksi lingkungan bertema keberagaman.

Namun di balik semua kreativitas itu, muncul pertanyaan penting. Apakah generasi muda benar-benar memahami makna persatuan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata?
Generasi hari ini dihadapkan pada tantangan baru: hoaks, polarisasi, dan budaya cuek. Semua bisa bersuara, tapi tidak semua mau mendengarkan. Semua punya opini, tapi hanya sedikit yang mau turun tangan. Itulah realita yang membuat semangat Sumpah Pemuda semakin penting dihidupkan kembali.
Pemimpin Muda di Tengah Sorotan
Dalam momen reflektif ini, kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sering disebut sebagai simbol munculnya generasi muda di panggung kekuasaan. Namun kehadiran itu juga memunculkan tanya: apakah pemuda di pemerintahan sudah benar-benar mewakili semangat perubahan, atau sekadar simbol formal dari “era baru”?
Sebagian anak muda berharap sosok muda di pemerintahan bisa membawa ide segar dan berpihak pada masa depan. Tapi di sisi lain, kritik publik juga muncul terhadap kiprah Gibran.

Banyak yang menilai perannya di pemerintahan masih sebatas seremonial dan belum terlihat arah kerja yang konkret. Pandangan ini mencerminkan harapan besar publik agar pemimpin muda tidak sekadar hadir di podium, tapi juga menunjukkan langkah nyata ke arah perbaikan dan kemajuan.
Menpora: Bergerak, Bukan Menunggu
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dalam sambutannya menegaskan, peringatan Sumpah Pemuda ke-97 bukan hanya upacara tahunan. Ia menyebut momentum ini sebagai pengingat untuk memperkuat nilai patriotik dan empati sosial.
“Anak muda harus berani mengambil tanggung jawab, bukan sekadar menunggu kesempatan. Bergerak bukan berarti ramai di media sosial, tapi membuat dampak nyata,” ujar Erick dalam pidatonya. Pesan itu terasa relevan. Banyak generasi muda aktif di dunia digital, tetapi belum banyak yang benar-benar terjun di lapangan.
Peran Kementrian Pemuda dan Olahraga pun sempat disorot terutama saat pergantian Menpora kemarin, karena timbul kesan hanya bidang olahraga yang diperhatikan dibanding dengan bidang Kepemudaannya.
Sumpah Pemuda Versi Baru?
Sumpah Pemuda bukan hanya milik masa lalu. Nilainya hidup setiap kali ada anak muda yang menolak apatis, berani berbeda tanpa memecah belah, dan memilih bergerak daripada mengeluh.
Dalam konteks masa kini, “bersatu” tak lagi sekadar soal wilayah atau bahasa. Ini tentang menjaga solidaritas di tengah dunia digital yang cepat memicu perpecahan.
Di era ini, bergerak adalah bentuk baru dari bersumpah. Tidak harus lewat orasi, tapi bisa lewat ide, gerakan sosial, karya, atau keberanian memulai sesuatu yang baik.
Harapan untuk Generasi Emas
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda dan dua dekade menuju Indonesia Emas 2045, generasi muda dituntut bukan hanya adaptif, tapi juga punya arah. Bukan hanya eksis, tapi berkontribusi nyata.
Semangat 1928 memberi teladan: perubahan besar bisa lahir dari tekad sederhana, asalkan benar-benar dilakukan bersama. Kini, semangat itu harus diterjemahkan dalam bentuk kejujuran dan integritas.
Generasi muda diharapkan tumbuh tanpa mewarisi kebiasaan korupsi yang telah lama menggerogoti bangsa, serta menjauh dari praktik kolusi, nepotisme, kemalasan berpikir, budaya instan, kecenderungan menormalisasi ketidakjujuran dan tidak mewarisi kebiasaan ABS (asal bapak senang).
Karena masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat mereka bergerak, tapi juga seberapa bersih niat mereka menjaga negeri. Semoga Generasi Emas dapat terwujud nantinya. Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Leave a comment