Home Berita Reformasi Polri Diuji, PP Baru Disiapkan Usai Larangan MK
BeritaInternasional

Reformasi Polri Diuji, PP Baru Disiapkan Usai Larangan MK

Share
Ironi Reformasi Kepolisian
Ironi Reformasi Kepolisian
Share

Pemuja.com – Pemerintah tengah menyusun Peraturan Pemerintah (PP) sebagai pengganti Peraturan Polri Nomor 10 Tahun 2025 yang sebelumnya diterbitkan Kapolri terkait penugasan anggota Polri di luar struktur kepolisian.

Langkah ini diambil menyusul putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang anggota Polri aktif merangkap jabatan sipil.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyampaikan bahwa PP tersebut disiapkan untuk memberikan kepastian hukum pasca polemik yang berkembang.

Menurut Yusril, aturan setingkat PP dipilih agar pengaturan penugasan anggota Polri memiliki dasar hukum yang lebih kuat dan seragam.

Penyusunan PP dilakukan lintas kementerian, melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Kementerian PANRB, Kementerian Sekretariat Negara, serta Kementerian Hukum.

Pemerintah menargetkan aturan ini rampung dalam waktu dekat guna memberikan kepastian hukum pasca polemik yang berkembang di ruang publik.

Putusan MK Tegaskan Larangan Rangkap Jabatan

Mahkamah Konstitusi sebelumnya memutuskan bahwa anggota Polri aktif tidak dapat menduduki jabatan sipil atau jabatan di luar fungsi kepolisian.

Jika ingin mengisi jabatan tersebut, yang bersangkutan wajib mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian.

MK menilai praktik rangkap jabatan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan serta mengaburkan prinsip supremasi sipil.

Putusan tersebut bersifat final dan mengikat seluruh lembaga negara, termasuk pemerintah dan institusi kepolisian.

Putusan ini sekaligus menutup ruang tafsir lama yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai dasar penempatan polisi aktif di kementerian, lembaga negara, maupun badan usaha milik negara.

Perpol Kapolri Picu Polemik Baru

Di tengah upaya penyesuaian terhadap putusan MK, Kapolri justru menerbitkan Perpol yang mengatur penugasan anggota Polri aktif di berbagai kementerian dan lembaga.

Dalam aturan tersebut, disebutkan sejumlah 17 kementerian dan lembaga sipil dapat diisi personel Polri melalui skema penugasan tanpa harus pensiun.  

Perpol ini langsung menuai kritik. Banyak pihak menilai aturan internal tersebut bertentangan dengan putusan MK dan memperlihatkan ketidaksinkronan antara kebijakan kepolisian dan arah konstitusi.

Polemik pun meluas dan memicu perdebatan soal kepatuhan terhadap putusan lembaga peradilan tertinggi.

PP Dipilih sebagai Jalan Tengah Pemerintah

Pemerintah kemudian memilih menyusun PP sebagai payung hukum baru. Alasan yang disampaikan, PP dianggap lebih kuat dibanding Perpol dan dapat menjadi dasar hukum yang lebih jelas dalam mengatur penugasan anggota Polri di luar struktur.

Dalam draf yang dibahas, PP disebut akan mengatur secara rinci jenis jabatan yang dapat diisi anggota Polri, mekanisme penugasan, serta batasan waktu dan kewenangan. Pemerintah juga menyebut langkah ini sebagai upaya mencegah kekosongan hukum.

Namun pilihan ini sekaligus memunculkan pertanyaan baru. Mengapa putusan MK yang sudah tegas masih memerlukan aturan turunan yang berpotensi membuka ruang tafsir ulang.

Putusan MK Mengikat, Bukan Untuk Dicari Celah

Di sinilah kritik mengemuka. Putusan MK bukan sekadar panduan, melainkan perintah konstitusional yang mengikat.

Ketika larangan rangkap jabatan justru direspons dengan penyusunan aturan baru, publik menilai negara sedang mencari celah untuk mengakomodasi praktik lama.

Langkah ini dinilai bertolak belakang dengan semangat reformasi kepolisian yang selama ini digaungkan. Reformasi Polri menuntut pemisahan yang jelas antara fungsi keamanan dan jabatan sipil, bukan kompromi regulatif yang memperpanjang persoalan.

Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum, ketegasan menjalankan putusan MK seharusnya menjadi titik balik.

Jika keputusan konstitusi masih dinegosiasikan melalui aturan teknis, maka agenda reformasi berisiko kembali menjadi jargon tanpa perubahan nyata.

Publik kini menunggu, apakah PP yang disusun benar-benar menutup praktik rangkap jabatan polisi, atau justru menjadi bukti bahwa putusan MK masih bisa diakali di tengah klaim reformasi.

Baca Artikel Lainnya :

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don't Miss

Uang Rp800 Juta dari Pengacara Summarecon, Hercules Buka Suara

Pemuja.com – Rosario de Marshall alias Hercules kembali menjadi sorotan, kali ini terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengurusan lahan Summarecon di Kabupaten Bogor....

Refleksi Dua Tahun Prabowo-Gibran, Antara Janji, Capaian, dan Suara Rakyat

Pemuja.com – Esok, Tanggal 20 Oktober menandai dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Momentum ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi capaian...

Related Articles

Dituding Ikut Menyadap Prabowo, Ketum Golkar Bukas Suara

Pemuja.com – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia angkat bicara setelah namanya...

Panglima TNI Ungkap Alasan Kerahkan 20.980 Prajurit ke Jakarta

Pemuja.com – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto akhirnya mengungkap alasan pengerahan 20.980...

Como Menggila! Bantai Lens 9-1 di Liga Champions

Pemuja.com – Luar biasa! Como 1907 semakin mengguncang sepak bola Eropa. Setelah...

SBY Resah Politik Indonesia Makin Liar, Singgung Konflik Elite

Pemuja.com – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan keresahannya...