Pemuja.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program unggulan Presiden sejak awal pemerintahan. Digagas sebagai investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia, MBG ditujukan untuk menjangkau anak sekolah, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan.
Namun sepanjang tahun 2025 berjalan, program ini tidak hanya diwarnai optimisme, tetapi juga kritik tajam akibat berbagai insiden di lapangan.

Berikut rangkaian peristiwa penting MBG sepanjang tahun dalam format kaleidoskop.
Januari 2025: Program Diluncurkan Nasional
Pada 6 Januari 2025, pemerintah secara resmi meluncurkan program MBG. Program ini diperkenalkan sebagai solusi konkret untuk persoalan stunting dan ketimpangan gizi anak.
Pelaksanaan dilakukan bertahap, dimulai dari sekolah-sekolah tertentu dan daerah percontohan.
Di tahap awal, MBG dipromosikan bukan sekadar bantuan sosial, melainkan fondasi masa depan generasi Indonesia.
Februari–Maret 2025: Implementasi Mulai Meluas
Memasuki Februari dan Maret, distribusi MBG mulai berjalan di berbagai daerah. Ribuan sekolah menerima paket makanan bergizi dengan menu yang disesuaikan standar gizi nasional.
Namun sejak fase ini, mulai terlihat perbedaan kesiapan antar wilayah. Beberapa daerah mampu menjalankan MBG dengan relatif tertib, sementara daerah lain masih menghadapi persoalan dapur produksi, distribusi, hingga penyimpanan makanan.

April 2025: Keracunan Pertama, Alarm Awal
Insiden serius pertama terjadi pada 22 April 2025 di SMP PGRI Cianjur, Jawa Barat. Puluhan siswa mengalami mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi menu MBG.
Sejumlah siswa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan, dan distribusi makanan dihentikan sementara.
Kasus ini menjadi peringatan awal bahwa skala besar MBG menyimpan risiko jika pengawasan keamanan pangan tidak ketat.

Mei 2025: Keracunan Terjadi di Banyak Daerah
Memasuki Mei 2025, kasus keracunan tidak lagi terjadi secara terpisah. Pada rentang awal hingga pertengahan Mei, insiden dilaporkan di berbagai daerah. Salah satu yang paling menonjol terjadi di Bogor, Jawa Barat, sekitar 7–11 Mei 2025, ketika ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG.
Dalam periode yang sama, laporan keracunan juga muncul dari sejumlah daerah lain di Jawa dan luar Jawa. Setidaknya 17 kejadian keracunan MBG di 10 provinsi, menunjukkan bahwa masalah tidak lagi terisolasi di satu atau dua lokasi saja tetapi mulai tersebar lintas wilayah.

Hingga pertengahan Mei, jumlah kejadian tercatat telah terjadi di lintas provinsi dengan total korban mencapai ratusan anak. MBG pun mulai dipandang sebagai persoalan keselamatan, bukan sekadar teknis distribusi.
Juni–Agustus 2025: Evaluasi Dilakukan, Insiden Masih Muncul
Pada pertengahan tahun, pemerintah menyatakan melakukan evaluasi dan pengetatan standar pelaksanaan. Peran pemerintah daerah diperkuat dan menu mulai disesuaikan dengan kondisi lokal.
Meski demikian, laporan insiden keracunan masih terjadi di beberapa daerah, meski dengan skala lebih kecil, melibatkan belasan hingga puluhan siswa.
September–Oktober 2025: Kritik Memuncak
Pada periode ini, kembali muncul kasus keracunan di sejumlah sekolah, termasuk di wilayah Jawa Barat dan Sumatra. Temuan makanan yang tidak layak konsumsi semakin memperkuat kritik publik.
MBG menjadi sorotan luas, dengan tuntutan evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan, tata kelola dapur, dan kesiapan program.

November 2025: Program Tetap Dilanjutkan
Menjelang akhir tahun, pemerintah menegaskan MBG tetap dipertahankan sebagai program prioritas. Kekurangan diakui, namun dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran kebijakan.
Di sisi lain, sebagian publik menilai evaluasi yang dilakukan belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar di lapangan.
Desember 2025: Polemik MBG Saat Libur Nataru
Polemik kembali mengemuka saat libur Natal dan Tahun Baru. Di tengah aktivitas sekolah yang berhenti, program MBG justru tetap berjalan di sejumlah daerah.
Kebijakan ini segera memantik pertanyaan publik, mulai dari urgensi pelaksanaan hingga kejelasan mekanisme distribusi dan pengawasan ketika kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung.
Sebagian pihak menilai langkah tersebut sebagai bentuk konsistensi kehadiran negara. Namun sorotan utama kemudian mengarah pada potensi pihak yang diuntungkan.

Saat siswa sebagai penerima manfaat utama tidak berada di sekolah, penyediaan makanan kering tetap berjalan melalui dapur dan penyedia jasa. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan bahwa orientasi program mulai bergeser, dari pemenuhan kebutuhan gizi menjadi sekadar menjaga alur produksi dan penyerapan anggaran.
Kekhawatiran semakin besar karena masa libur identik dengan keterbatasan personel pengawas di berbagai institusi. Situasi tersebut dinilai membuka celah terhadap penurunan kualitas makanan hingga lemahnya akuntabilitas distribusi.
Polemik MBG di masa libur Nataru pun menjadi penutup tahun yang kritis. Ia meninggalkan satu catatan penting: konsistensi kebijakan tidak cukup tanpa kejelasan tujuan, ketepatan sasaran, dan transparansi pelaksanaan agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh mereka yang berhak.
Catatan Akhir Kaleidoskop
Setahun perjalanan MBG menunjukkan bahwa program besar dengan tujuan mulia tidak cukup dijalankan dengan optimisme dan angka capaian. Rentetan insiden keracunan menjadi alarm serius bahwa persoalan utama terletak pada kesiapan dan pengawasan, dengan keselamatan anak sebagai taruhan terbesarnya.
Masalah tidak berhenti di lapangan. Di level kebijakan, sorotan mengarah pada cara pimpinan Badan Gizi Nasional menyampaikan laporan termasuk saat sidang paripurna, laporan kinerja MBG dinilai terkesan terlalu positif dan tidak mencerminkan kompleksitas persoalan di lapangan. Pendekatan semacam ini memunculkan kesan Asal Bapak Senang, seolah angka cakupan lebih penting daripada kualitas dan dampak nyata.

Sikap defensif sejumlah pimpinan BGN juga menuai kritik. Respons yang terkesan menolak disalahkan, termasuk saat mencuat temuan belatung dalam makanan yang diunggah siswa, justru memperlihatkan jarak antara pengelola program dan realitas penerima manfaat. Kritik dianggap sebagai ketidakbersyukuran, bukan sebagai peringatan untuk berbenah.
Tahun depan akan menjadi ujian nyata bagi MBG. Bukan soal seberapa luas program dijalankan, melainkan apakah pengelolanya berani jujur, menerima kritik, dan menempatkan keselamatan anak di atas laporan manis dan ambisi politik.
Leave a comment