Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup pada Jumat malam, 30 Januari 2026. Pertemuan berlangsung di kediamannya di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan. Agenda ini langsung menarik perhatian publik.
Diskusi berlangsung sekitar empat hingga empat setengah jam. Sejumlah tokoh yang hadir dikenal kritis terhadap pemerintah. Karena itu, pertemuan ini ramai disebut sebagai pertemuan dengan oposisi.
Tokoh Oposisi yang Hadir
Beberapa figur yang hadir selama ini dikenal vokal menyampaikan kritik. Salah satunya adalah Abraham Samad, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia kerap bersuara lantang soal pemberantasan korupsi dan penegakan hukum.
Tokoh lain yang hadir adalah Muhammad Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN. Said Didu dikenal sering mengkritik kebijakan ekonomi dan tata kelola BUMN. Kehadirannya memperkuat kesan dialog dengan kelompok kritis.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Susno Duadji, mantan Kepala Bareskrim Polri. Susno menyebut diskusi berlangsung luas dan terbuka. Pembahasan mencakup isu politik, hukum, ekonomi, dan keamanan.
Ia menilai dialog tersebut tidak dibatasi satu topik saja. Menurutnya, Presiden mendengarkan langsung pandangan para tokoh yang hadir.
Baca Juga : Ekonomi Makin Terpuruk, Ketua Dewan Komisioner OJK Mundur?
Nama Siti Zuhro, peneliti politik dari BRIN, turut hadir dalam pertemuan. Ia kerap dilabeli oposisi karena pandangannya yang kritis. Namun, Siti Zuhro membantah anggapan tersebut.
Ia menegaskan hadir sebagai akademisi dan peneliti. Menurutnya, pertemuan itu adalah diskusi kebangsaan. Forum tersebut tidak bersifat politik praktis.
Isu Kebijakan dan Kebocoran Anggaran
Salah satu topik utama adalah evaluasi kebijakan pemerintah. Prabowo memaparkan sejumlah program yang telah berjalan. Para tokoh diberi ruang untuk memberi masukan langsung.
Isu lain yang dibahas adalah dugaan kebocoran anggaran negara. Topik ini menjadi perhatian serius dalam diskusi. Pembahasan diarahkan pada perbaikan tata kelola keuangan negara.
Istana Bantah Pertemuan dengan Oposisi Formal
Pemerintah memberikan klarifikasi atas pertemuan tersebut. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan tidak ada pertemuan dengan oposisi formal. Menurutnya, para tamu adalah tokoh masyarakat dan pakar independen.
Ia juga menyatakan tidak ada pimpinan partai oposisi yang hadir. Pertemuan disebut sebagai dialog terbuka untuk menyerap masukan.
Dialog atau Rekonsiliasi Politik
Meski dibantah Istana, publik tetap menilai pertemuan ini penting. Figur yang hadir dikenal sering berseberangan dengan pemerintah. Hal ini memunculkan tafsir adanya upaya membuka dialog politik.
Pertemuan ini dianggap sebagai langkah komunikasi yang lebih luas. Presiden dinilai ingin mendengar pandangan di luar lingkaran kekuasaan.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan tokoh-tokoh kritis menjadi sorotan nasional. Meski disebut bukan oposisi formal, figur yang hadir dikenal vokal. Diskusi membahas kebijakan, tata kelola negara, dan kebocoran anggaran.
Publik kini menunggu tindak lanjut dari dialog tersebut. Apakah masukan itu akan berujung pada kebijakan konkret, masih menjadi perhatian.
Leave a comment