Home Berita Film Pesta Babi Soroti Papua dan Pembukaan Lahan, Kini Bisa Ditonton Gratis
BeritaNasional

Film Pesta Babi Soroti Papua dan Pembukaan Lahan, Kini Bisa Ditonton Gratis

Share
Link Disini
Link Disini
Share

Pemuja.com – Ada yang menarik dari perbincangan sosial dan politik di Indonesia beberapa minggu terakhir. Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang sempat ramai karena berbagai pembubaran acara nonton bareng, kini akhirnya bisa ditonton bebas di YouTube.

Film karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale itu mendadak viral setelah namanya terus muncul di media sosial. Banyak orang penasaran karena film tersebut sejak awal memang sudah ramai dibicarakan. Bukan hanya karena kontroversi pembubaran nobar, tetapi juga karena isi dokumenternya yang dianggap berani menyoroti kondisi Papua dari sudut pandang yang jarang muncul di ruang publik.

Heboh Setelah Nobar Dibubarkan

Nama “Pesta Babi” mulai benar-benar viral setelah sejumlah acara nonton bareng di berbagai daerah mengalami pembubaran. Salah satu yang paling ramai dibicarakan terjadi di Ternate.

Acara nobar di kota tersebut dibubarkan langsung oleh Komandan Kodim karena acara tersebut dianggap berpotensi memicu polemik di masyarakat.

Setelah kejadian di Ternate, pembubaran mulai meluas ke sejumlah daerah lain seperti NTB, Makassar, Yogyakarta, hingga beberapa kota lainnya. Ada yang dihentikan oleh aparat, ada juga yang dibatalkan karena tekanan dari berbagai pihak.

Alasan penolakan umumnya karena film tersebut dianggap sensitif. Isu Papua, kolonialisme, aparat keamanan, hingga proyek pembangunan nasional menjadi pembahasan utama yang dianggap rawan memicu perdebatan.

Namun efeknya justru berbalik. Semakin banyak acara nobar dibatasi, rasa penasaran publik terhadap film ini malah semakin besar. Banyak warganet akhirnya mencari link film tersebut hingga akhirnya resmi diunggah ke YouTube.

Di media sosial, banyak yang menyebut pembubaran nobar justru menjadi promosi gratis bagi film “Pesta Babi”. Nama film ini terus ramai dibahas karena publik penasaran kenapa sebuah dokumenter bisa sampai mendapat penolakan di banyak daerah.

Tanggapan Pemerintah

Polemik film “Pesta Babi” yang terus meluas akhirnya ikut mendapat tanggapan dari Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak.

Yusril menegaskan pemerintah pusat tidak pernah mengeluarkan instruksi untuk melarang pemutaran maupun acara nobar film tersebut. Menurutnya, kritik terhadap pembangunan di Papua merupakan bagian dari demokrasi dan tidak perlu disikapi secara berlebihan, meski ia mengakui judul film itu memang cukup provokatif.

Ia juga meminta publik tidak hanya terpancing oleh judul, tetapi melihat langsung isi dokumenter tersebut secara utuh agar diskusi bisa berjalan lebih terbuka.

Sementara itu, KSAD Maruli Simanjuntak membantah adanya perintah resmi dari TNI untuk membubarkan acara nobar “Pesta Babi”. Menurutnya, beberapa penghentian acara terjadi karena adanya permintaan atau pertimbangan dari pemerintah daerah dan kondisi keamanan di masing-masing wilayah.

KSAD juga sempat menyinggung soal sumber pendanaan produksi film tersebut. Hal itu kembali memicu perdebatan karena sebagian publik menilai aparat terlihat kurang nyaman dengan isi film yang cukup keras.

Membuka Kondisi Papua Saat Ini

Film dokumenter “Pesta Babi” berfokus pada kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan yang terdampak pembukaan lahan besar-besaran. Penonton diajak melihat langsung perubahan yang terjadi di wilayah adat mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Mulai dari hutan yang hilang, ruang hidup masyarakat yang semakin menyempit, hingga kekhawatiran hilangnya identitas budaya akibat masuknya proyek pembangunan dan industri skala besar.

Dokumenter ini tidak memakai gaya yang terlalu formal. Kamera lebih banyak mengikuti aktivitas warga secara dekat agar penonton bisa melihat langsung kehidupan masyarakat adat Papua sehari-hari serta hubungan kuat mereka dengan tanah leluhur.

Namun yang paling banyak menjadi sorotan adalah gambaran kerusakan lingkungan yang muncul sepanjang film. Kawasan hutan yang sebelumnya lebat berubah menjadi area proyek dan lahan terbuka. Habitat satwa liar ikut menghilang, sementara ratusan batang pohon ditebang dan hilang entah kemana demi pembukaan lahan dan proyek pangan.

Yang menarik adanya keterlibatan aparat keamanan yang diturunkan dalam aktivitas pembukaan lahan dan pertanian yang terlihat dalam beberapa bagian dokumenter. Hal itu memicu pertanyaan besar di media sosial, kenapa aparat kini tidak hanya menjalankan fungsi keamanan, tetapi juga mulai masuk ke urusan pengelolaan lahan dan proyek pangan.

Bagi sebagian penonton, “Pesta Babi” bukan hanya film dokumenter biasa. Film ini dianggap membuka sisi lain Papua yang selama ini jarang terlihat di media arus utama, mulai dari hilangnya hutan adat, perubahan kehidupan masyarakat lokal, hingga dampak besar pembangunan atas nama ketahanan pangan dan investasi.

Arti Judul Pesta Babi Jadi Sorotan

Judul “Pesta Babi” juga ikut menjadi perhatian publik. Dalam budaya masyarakat Papua, pesta babi bukan sekadar acara makan bersama.

Tradisi tersebut menjadi simbol persaudaraan, penghormatan, hingga bagian penting dalam ritual adat. Karena itu, penggunaan judul tersebut dianggap memiliki makna budaya yang cukup kuat di dalam film.

Namun dalam dokumenter ini, tradisi itu digambarkan mulai terancam akibat perubahan besar yang masuk ke wilayah adat masyarakat Papua.

Film yang Memicu Pro dan Kontra

Kontroversi “Pesta Babi” tidak hanya datang dari pembubaran nobar di berbagai daerah. Isi dokumenternya juga memicu perdebatan karena dianggap berani membuka kondisi Papua yang jarang terlihat di ruang publik.

Sebelumnya, film ini banyak ditonton publik melalui potongan video dan unggahan per bagian di YouTube. Kini dokumenter “Pesta Babi” sudah tersedia secara utuh dan bisa ditonton bebas oleh masyarakat.

Tonton Film Pesta Babi Full Movie di YouTube

Kini setelah film tersebut resmi tersedia utuh di YouTube dan semakin mudah diakses publik, perhatian juga mulai tertuju pada bagaimana respons lanjutan pemerintah dan TNI terhadap meluasnya penonton dan diskusi mengenai dokumenter ini.

Baca Artikel Lainnya :

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Konflik Baru dalam Perang Rusia–Ukraina, Usulan AS Jadi Sorotan

Pemuja.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Rusia dan Ukraina sepakat melakukan gencatan senjata selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 Mei...

Tragedi Bus ALS Vs Truk Tangki di Sumsel, 16 Orang Tewas

Pemuja.com – Kecelakaan maut antara bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kecamatan Karang Jaya,...

Related Articles

Analisa Insiden Penembakan di Dekat Gedung Putih

Pemuja.com – Situasi politik dan keamanan Amerika Serikat kembali memanas setelah muncul...

Mau Melanjutkan Sekolah Setelah SMA/SMK? Cek Daftar Sekolah Kedinasan Ini

Pemuja.com – Informasi mengenai kuliah gratis dan sekolah ikatan dinas kembali ramai...

MasjidCloud, Aplikasi Baru yang Permudah Pengurus Kelola Dana Masjid Secara Modern

Pemuja.com – Di tengah masih banyaknya pengelolaan kas masjid yang dilakukan secara...

Dirut PLN Buka Suara tentang Mati Listrik Massal di Sumatra

Pemuja.com – Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan permintaan maaf...