Home Berita Hampir 2.000 Anak Diduga Keracunan MBG dalam Tiga Hari
BeritaNasionalPendidikan

Hampir 2.000 Anak Diduga Keracunan MBG dalam Tiga Hari

Share
Share

Pemuja.com – Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah. Dalam tiga hari pertama September 2026, hampir 2.000 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.

Kasus tersebut terjadi sejak Selasa (1/9/2026) hingga Kamis (3/9/2026). Sebagian besar korban merupakan siswa dan santri.

Berdasarkan laporan dari sejumlah daerah, sedikitnya 1.768 orang terdampak. Angka tersebut berasal dari kasus di Sidoarjo, Rembang, Agam, Nganjuk, dan Sleman.

Ratusan Siswa dan Santri Terdampak

Kasus dengan jumlah korban besar terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 730 orang dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, dilaporkan mengalami gejala setelah menyantap menu MBG.

Sebagian korban sempat mendapat perawatan di fasilitas kesehatan. Hingga Kamis (3/9), sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani perawatan jalan.

Kasus serupa kemudian muncul di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 750 warga SMAN 1 Lasem, terdiri dari 725 siswa dan 25 guru, mengalami diare dan keluhan kesehatan lainnya pada Kamis.

Para siswa kemudian dipulangkan setelah banyak yang mengalami mual dan diare. Pihak sekolah sebelumnya juga menemukan sebagian ayam bakar dalam menu MBG dalam kondisi berlendir.

Meski demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan di Rembang masih dalam pemeriksaan. Puskesmas setempat belum memastikan bahwa seluruh keluhan tersebut disebabkan oleh makanan MBG.

Kasus Menyebar Di Daerah Lain

Selain Sidoarjo dan Rembang, gangguan kesehatan juga dilaporkan di beberapa daerah lain.

Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sebanyak 276 siswa dan guru dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Keluhannya meliputi sakit kepala, sakit perut, mual, hingga demam.

Pemerintah daerah kemudian menghentikan sementara distribusi MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh. Sampel makanan juga diperiksa di laboratorium untuk mencari penyebab gangguan kesehatan.

Sementara di Nganjuk, Jawa Timur, sebanyak 49 siswa dilaporkan mengalami gejala setelah menyantap menu MBG.

Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sedikitnya 29 orang juga mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG. Pemerintah setempat melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan dan sanitasi SPPG terkait.

Jika seluruh laporan tersebut dijumlahkan, terdapat sekitar 1.768 orang yang mengalami gangguan kesehatan dalam tiga hari pertama September. BBC News Indonesia kemudian merangkum perkembangan tersebut sebagai kasus yang melibatkan hampir 2.000 orang, dengan mayoritas korban merupakan anak-anak.

Baca Juga : Garuda GA604 Pecah Ban, Berhasil Mendarat Selamat di Makassar

BGN Soroti Pelanggaran SOP

Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya mengungkap adanya persoalan dalam proses distribusi makanan MBG di Sidoarjo.

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan terdapat ketidakdisiplinan dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Makanan MBG seharusnya segera didistribusikan setelah proses memasak. Namun, dalam kasus Sidoarjo, makanan disebut berada di luar ketentuan waktu distribusi.

BGN menyebut makanan yang tidak menggunakan pengawet lebih mudah mengalami pembusukan dan memungkinkan bakteri berkembang apabila penanganannya tidak sesuai prosedur.

Evaluasi Program MBG

Rentetan kasus tersebut kembali menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan keamanan pangan dalam program MBG.

Pemerintah melalui BGN melakukan penghentian sementara terhadap sejumlah SPPG yang berkaitan dengan kasus dugaan keracunan. Pemeriksaan sampel makanan dan evaluasi proses pengolahan juga dilakukan untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan.

Di sisi lain, kasus-kasus tersebut belum seluruhnya dapat dipastikan sebagai keracunan akibat MBG. Sejumlah pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi kesehatan.

Dengan munculnya kasus di beberapa daerah dalam waktu berdekatan, pengawasan mulai dari pemilihan bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi menjadi perhatian penting.

Program MBG sendiri ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, keamanan makanan menjadi faktor utama yang harus dipastikan agar program tersebut tidak justru menimbulkan risiko kesehatan bagi penerima manfaat.

Jika tidak bisa menjamin kesehatan penerimanya, apakah sudah selayaknya program ini dihentikan?

Baca Artikel Lainnya :

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Don't Miss

Biaya Haji 2027 Resmi Tembus Rp98,4 Juta

Pemuja.com – Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1448 Hijriah/2027 Masehi resmi ditetapkan sebesar Rp 98.466.351 per jemaah. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad...

Setelah Cibinong, Kini Rutan Depok Disorot Setelah Video Dugem Viral

Pemuja.com – Belum selesai sorotan terhadap kasus Lapas Cibinong, kini persoalan serupa kembali mencuat dari rumah tahanan di Jawa Barat. Kali ini, Rutan...

Related Articles

Anggota Parlemen Malaysia Tegur Presiden Prabowo, Uniknya Pakai Bahasa Jawa

Pemuja.com – Jagat media sosial dihebohkan dengan teguran anggota parlemen Malaysia, Kalam...

Vonis Sudewo 8,5 Tahun, Warga Pati Gelar Syukuran

Pemuja.com – Bupati Pati nonaktif Sudewo akhirnya divonis 8 tahun 6 bulan...

BMKG Sebut Dry Ice Digunakan untuk Urai Kabut Asap Karhutla

Pemuja.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerapkan Operasi Modifikasi Cuaca...

Karhutla Terus Berulang, Menhut Bekukan Izin 6 Perusahaan

Pemuja.com – Setelah cukup lama jarang muncul di media, Menteri Kehutanan Raja...