Pemuja.com – Harapan sempat berhembus ketika di tengah panasnya konflik yang nyaris meledak lebih luas, wacana gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sempat memberi sedikit jeda. Dunia menunggu. Pasar menahan napas dan situasi seperti akan mereda.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dari balik meja negosiasi, Gedung Putih membuka fakta yang mengejutkan. Proposal awal 10 poin yang diajukan Teheran ternyata tidak hanya ditolak, tetapi langsung “dibuang ke tempat sampah” oleh Presiden Donald Trump dan tim negosiasinya.
Menariknya, hal ini disampaikan Juru bicara Gedung Putih Karolina Leavitt, bukan oleh Tweet atau konferensi pers Trump langsung seperti yang ia lakukan selama ini.

10 Poin Tuntutan Iran
Klarifikasi ini sekaligus mematahkan narasi yang sempat beredar bahwa proposal Iran berada di jalur yang bisa diterima. Faktanya, Washington menilai isi draf tersebut terlalu sepihak.
Berikut adalah rincian 10 poin tuntutan Iran:
- Penghentian Total Perang: Menghentikan serangan terhadap Iran serta konflik di Yaman, Lebanon, dan Irak.
- Jaminan Keamanan: AS dijamin berhenti menyerang Iran selamanya.
- Penghentian Sanksi: Pencabutan seluruh sanksi terhadap Iran.
- Pencairan Aset: Pencairan dana dan aset Iran yang dibekukan AS.
- Selat Hormuz: Kontrol penuh dan keamanan navigasi Selat Hormuz di tangan Iran.
- Ganti Rugi: Pembayaran kompensasi penuh atas kerusakan akibat sanksi/serangan.
- Energi Nuklir: Pengakuan hak Iran untuk pengayaan uranium dan nuklir damai.
- Penarikan Pasukan: Penarikan pasukan AS dari pangkalan regional.
- Resolusi PBB: Penghapusan sanksi PBB dan IAEA.
- Gencatan Senjata: Gencatan senjata segera di semua lini.
Bagi AS, tuntutan ini dinilai tidak realistis. Bukan titik awal negosiasi, melainkan daftar keinginan sepihak yang sulit dijadikan dasar kesepakatan.
Trump: Hanya untuk Kepentingan AS
Dari pernyataan terbaru yang beredar dalam video, sikap Washington semakin tegas. Donald Trump menegaskan bahwa dirinya hanya akan menyetujui kesepakatan yang benar-benar melayani kepentingan terbaik Amerika Serikat.
Ia juga memberi sinyal waktu yang jelas. Tim negosiasi AS disebut akan fokus penuh dalam dua minggu ke depan untuk mendorong tercapainya kesepakatan yang sesuai dengan kepentingan tersebut.
Namun ada syarat kunci yang tidak bisa ditawar. Selama proses itu berlangsung, jalur vital energi dunia, Selat Hormuz harus tetap terbuka tanpa batasan dan tanpa penundaan. Bagi Washington, stabilitas jalur ini menjadi indikator utama keseriusan Iran dalam bernegosiasi.

Gencatan Senjata yang Masih Rapuh
Kesepakatan mungkin mulai terbentuk di atas kertas. Namun di lapangan, realitas berkata lain. Perbedaan kepentingan masih tajam, terutama antara Amerika Serikat dan Iran dalam isu strategis seperti Lebanon, program nuklir, hingga kendali Selat Hormuz yang menjadi urat nadi energi dunia.
Di satu sisi, negosiasi terus berjalan. Di sisi lain, tekanan militer belum benar-benar surut. Situasi ini membuat gencatan senjata lebih terlihat sebagai jeda, bukanlah suatu akhir.
Baca Artikel Lainnya
- Dorong Transisi Energi, Presiden Resmikan Pabrik EV di Magelang
- Garuda Indonesia Resmi Menaikkan Harga Tiket Pesawat
- Draf Iran Masuk “Tempat Sampah”, Negosiasi Gencatan Senjata Memanas
- Kenaikan Harga Plastik Hantam Usaha Kecil
- Breaking News! Selat Hormuz Ditutup Lagi. Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Leave a comment