Pemuja.com – Nilai tukar rupiah kembali terpuruk dan kini memasuki fase yang makin mengkhawatirkan. Pada perdagangan Selasa 19 Mei pukul 11.40 WIB (bi.go.id), rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.754 per dolar Amerika Serikat, menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah.
Tekanan terhadap rupiah terus datang di tengah ketidakpastian global, perang kawasan Timur Tengah, hingga kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Kondisi ini langsung memicu keresahan publik. Bukan hanya karena angka dolar yang terus meroket, tetapi juga karena pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai meremehkan dampak pelemahan rupiah terhadap rakyat kecil.

Kritik Atas Pernyataan Presiden
Di tengah sorotan terhadap anjloknya rupiah, Presiden Prabowo sempat menyatakan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar sehingga tidak perlu terlalu khawatir dengan kenaikan mata uang Amerika Serikat tersebut.
Pernyataan itu justru memantik reaksi keras di media sosial. Banyak publik menilai ucapan tersebut terdengar tidak sensitif terhadap kondisi nyata di lapangan.
Warganet ramai mengingatkan bahwa meski rakyat desa tidak memegang dolar secara langsung, hampir seluruh rantai ekonomi tetap terdampak oleh kenaikan kurs. Harga pupuk, BBM, bahan pangan seperti kedelai, pakan ternak, obat-obatan, elektronik, hingga biaya logistik ikut terdorong naik ketika dolar menguat.
Bahkan beberapa pembuat konten membuat video sindiran rakyat yang berbelanja menggunakan daun, ranting dan batu sebagai alat pembayaran di desa.
Sebagian publik bahkan menilai komentar tersebut menunjukkan pemerintah terlalu jauh dari realitas ekonomi masyarakat bawah.
Keresahan publik juga diperkuat karena pelemahan rupiah terjadi di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dimana daya beli masyarakat dinilai masih lemah.
Desakan Mundur kepada Gubernur BI
Tekanan tentu saja tertuju kepada Bank Indonesia. Sejumlah anggota DPR mulai secara terbuka mempertanyakan kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
Desakan agar Gubernur BI Perry Warjiyo mundur pun mulai mencuat dalam pembahasan di Komisi XI DPR RI. Kritik diarahkan pada kebijakan moneter yang dinilai gagal membendung pelemahan rupiah meski Bank Indonesia telah berkali-kali melakukan intervensi pasar.
Anggota Komisi XI DPR RI dari PAN, Primus Yustisio, menjadi salah satu sosok yang paling keras melontarkan kritik terkait anjloknya rupiah.
Ia menilai pelemahan rupiah saat ini sudah berada pada level yang memalukan. Menurutnya, rupiah bukan hanya kalah terhadap dolar AS, tetapi juga terus melemah terhadap mata uang lain seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, euro, hingga dolar Hong Kong.
Primus mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masalah rupiah bukan lagi sekadar efek global. Ia menilai situasi itu mulai mencerminkan turunnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi nasional dan kebijakan moneter Indonesia.
Ia bahkan secara terbuka meminta Perry Warjiyo mempertimbangkan mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Narasi Negara Kaya Dipertanyakan
Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan berulang kali mengatakan Indonesia adalah negara kaya. Ia juga menyebut Indonesia memiliki kekayaan luar biasa yang menjadi incaran banyak negara.
Narasi optimisme itu terus digaungkan di tengah berbagai proyek besar dan klaim pertumbuhan ekonomi nasional yang disebut tetap kuat.
Namun situasi yang dirasakan masyarakat justru berbanding terbalik. Harga kebutuhan pokok terus naik, daya beli melemah, dan lapangan kerja dinilai semakin sulit. Bayangan PHK juga mulai menghantui sejumlah sektor. Di saat yang sama, rupiah terus tertekan terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.
Kondisi tersebut memicu kritik tajam di media sosial. Banyak masyarakat menilai pidato soal kekayaan negara kini terdengar semakin jauh dari realitas sehari-hari yang mereka rasakan.
Sebagai perumpamaan, pemerintah sempat menyampaikan keberhasilan swasembada beras dan stok beras yang disebut melimpah. Namun di lapangan, harga beras tetap tinggi. Harga bahkan dinilai tidak turun meski pasokan disebut melimpah dan justru terus menjadi beban pengeluaran masyarakat sehari-hari.
Situasi itu membuat banyak orang mulai mempertanyakan ke mana arah hasil kekayaan dan keberhasilan ekonomi yang selama ini terus dibanggakan.
Bagi masyarakat kecil, ukuran ekonomi bukan sekadar pidato optimisme atau angka pertumbuhan. Yang paling dirasakan adalah harga kebutuhan yang terjangkau dan kemampuan bertahan hidup setiap bulan.
Kini di tengah dolar yang terus meroket dan tekanan ekonomi yang mulai terasa hingga ke bawah, narasi “Indonesia negara kaya” mulai terdengar seperti slogan indah di atas panggung, tetapi belum sepenuhnya terasa nyata bagi banyak rakyat di bawah.
Baca Artikel Lainnya :
- Trump Tunda Serangan ke Iran Atas Permintaan Negara Arab
- 2 Remaja Tembaki Masjid di San Diego, 3 Orang Tewas
- Dolar Meroket hingga Rp17.754, DPR Kritik Keras BI
- Deretan Mobil dan Motor Mewah Sitaan Negara Akan Dilelang Pekan Ini
- Indonesia Resmi Memasuki Era Rafale, Jet Tempur Canggih Kini Perkuat TNI AU
Leave a comment