Home Berita Putin Temui Xi Jinping Usai Trump Tinggalkan Beijing, Ada Sinyal Geopolitik Besar?
BeritaInternasional

Putin Temui Xi Jinping Usai Trump Tinggalkan Beijing, Ada Sinyal Geopolitik Besar?

Share
Putin Kunjungi Xi
Putin Kunjungi Xi
Share

Pemuja.com – Hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan Beijing, Presiden Rusia Vladimir Putin langsung mendarat di China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Kunjungan Putin berlangsung pada 19–20 Mei 2026 di Beijing. Waktu kedatangannya menjadi sorotan karena terjadi hanya empat hari setelah Trump menyelesaikan lawatan pentingnya ke China.

Rangkaian kunjungan dua pemimpin besar dunia itu memunculkan satu pertanyaan besar: apakah China kini sedang memainkan peran baru sebagai pusat diplomasi global di tengah memanasnya konflik dunia?

Banyak analis melihat momen ini bukan kebetulan. Beijing dinilai sengaja memperlihatkan kepada dunia bahwa semua kekuatan besar kini harus datang ke China untuk berbicara, baik Washington maupun Moskow.

China Sedang Menunjukkan Posisi Baru

Media internasional menilai Xi Jinping sedang membangun citra China sebagai pusat keseimbangan baru dunia. Dalam waktu kurang dari satu minggu, Beijing menerima dua tokoh yang berada di kubu geopolitik berbeda.

Trump datang membawa isu perdagangan, Taiwan, serta ketegangan Iran. Sementara Putin datang dengan agenda memperkuat hubungan strategis Rusia-China di tengah perang Ukraina dan tekanan Barat terhadap Moskow.

China ingin memproyeksikan diri sebagai kekuatan global yang stabil di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Bahkan pertemuan Xi dan Putin disebut akan diakhiri dengan “tea diplomacy”, simbol kedekatan personal keduanya yang sudah terjalin bertahun-tahun.

Apa yang Dibicarakan Putin dan Xi?

Secara resmi, Kremlin menyebut kunjungan Putin bertujuan memperkuat “kemitraan strategis istimewa” antara Rusia dan China.

Beberapa agenda penting diperkirakan menjadi fokus pembahasan.

Energi dan Jalur Gas Rusia-China

Salah satu fokus utama adalah proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang selama ini tertunda. Jalur ini akan mengalirkan gas Rusia ke China melalui Mongolia dan menjadi proyek penting bagi ekonomi Rusia setelah pasar Eropa banyak tertutup akibat sanksi perang Ukraina.

Dalam kunjungan tersebut, kedua negara juga disebut membahas puluhan kerja sama baru di bidang energi, perdagangan, teknologi, hingga keuangan.

Penguatan Blok Anti-Dominasi Barat

Putin sebelum bertemu Xi menegaskan bahwa hubungan Rusia-China menjadi “kekuatan stabilitas dunia”. Ia juga menyinggung pentingnya kerja sama melalui BRICS dan Shanghai Cooperation Organisation.

Bahasa seperti ini sering dibaca sebagai sinyal penolakan terhadap dominasi Amerika Serikat dalam tata dunia global.

China dan Rusia memang semakin dekat sejak perang Ukraina pecah pada 2022. Beijing tidak pernah secara terbuka mengecam invasi Rusia, sementara Moskow sangat bergantung pada perdagangan dan dukungan ekonomi China untuk bertahan dari sanksi Barat.

Apakah Ada Kaitannya Dengan Trump?

Inilah bagian paling menarik dari kunjungan tersebut.

Trump datang ke Beijing dengan membawa isu perdagangan, tarif, hingga konflik Iran. Namun pertemuan itu dinilai belum menghasilkan terobosan besar.

Tidak lama setelah itu, Putin datang.

Banyak pengamat melihat China sedang mengirim pesan bahwa Beijing mampu berbicara dengan dua rival utama dunia sekaligus. Bagi Xi Jinping, ini memperkuat citra China sebagai pemain utama yang tidak bisa diabaikan siapa pun.

Situasi ini bahkan disebut sebagai bentuk “diplomatic flex” atau demonstrasi kekuatan diplomatik China kepada dunia.

Ada pula spekulasi bahwa isu Iran dan perang Ukraina ikut menjadi pembahasan tidak langsung dalam rangkaian kunjungan Trump dan Putin tersebut. Trump diketahui sangat membutuhkan stabilitas global di tengah tekanan ekonomi dan konflik Timur Tengah, sementara China memiliki hubungan penting dengan Rusia maupun Iran.

Apakah Ada Hubungannya dengan Iran?

Inilah pertanyaan terbesar yang mulai ramai dibahas pengamat internasional.

Perang Iran ternyata menjadi salah satu isu utama dalam kunjungan Trump ke China. Washington diketahui sangat membutuhkan stabilitas Timur Tengah karena konflik Iran mulai berdampak pada harga energi, jalur perdagangan global, hingga keamanan Selat Hormuz.

China memiliki posisi penting karena menjadi mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama minyak Iran. Beijing juga memiliki hubungan strategis dengan Rusia yang selama ini mendukung Iran dalam berbagai isu internasional.

Karena itulah muncul dugaan bahwa Trump sebenarnya datang ke Beijing untuk meminta bantuan Xi Jinping menekan Iran agar konflik tidak semakin meluas.

Namun tidak lama setelah Trump pulang, Putin langsung datang.

Momen itu membuat banyak analis membaca adanya konsolidasi kubu anti-Barat secara halus. Rusia dan China tampak ingin menunjukkan bahwa mereka tetap berada dalam satu poros strategis meskipun Amerika berusaha mendekati Beijing.

China sendiri terlihat memainkan strategi yang sangat hati-hati. Di satu sisi tetap menjaga hubungan erat dengan Rusia dan Iran, tetapi di sisi lain juga tidak ingin hubungan ekonominya dengan Amerika Serikat runtuh total.

Situasi ini membuat Beijing kini berada di posisi paling penting dalam percaturan geopolitik dunia.

Masih Solidkah Blok Anti Barat?

Secara politik, iya. Tetapi secara kepentingan, mulai terlihat tidak sepenuhnya solid.

Selama beberapa tahun terakhir, dunia melihat terbentuknya poros tidak resmi yang sering disebut sebagai blok anti-Barat, terdiri dari Iran, Rusia, China, dan Korea Utara.

Keempat negara ini memang memiliki kesamaan:

  • sama-sama berkonflik atau bersaing dengan Amerika Serikat,
  • terkena sanksi Barat,
  • dan memiliki kepentingan mengurangi dominasi dolar serta pengaruh NATO.

Namun hubungan mereka sebenarnya lebih bersifat pragmatis dibanding ideologis.

Masing-masing negara tetap memiliki kepentingan nasional yang berbeda. China membutuhkan stabilitas ekonomi global. Rusia membutuhkan dukungan ekonomi untuk bertahan dari tekanan Barat. Iran membutuhkan perlindungan politik dan jalur perdagangan. Sementara Korea Utara membutuhkan jaminan keamanan rezimnya.

Karena itu, kedekatan mereka memang masih kuat, tetapi bukan berarti tanpa batas.

Jika konflik global semakin membesar, setiap negara kemungkinan akan mulai lebih berhitung demi melindungi kepentingannya sendiri.

Beijing Kini Jadi Panggung Utama Dunia?

Dalam waktu kurang dari satu minggu, Beijing menerima Trump dan Putin secara bergantian.

Satu datang membawa kepentingan Amerika Serikat.
Satu lagi membawa kepentingan Rusia.
Dan Xi Jinping berada di tengah keduanya.

Pemandangan seperti ini dulu lebih identik dengan Washington. Namun kini pusat diplomasi dunia perlahan terlihat mulai bergeser.

China bukan lagi sekadar kekuatan ekonomi global. Beijing kini mulai tampil sebagai pusat negosiasi, penyeimbang, sekaligus pemain utama dalam berbagai konflik internasional.

Dan di tengah perang Iran, perang Ukraina, serta rivalitas Amerika-China yang terus memanas, dunia mulai melihat satu kenyataan baru:

semua jalur geopolitik besar saat ini perlahan mulai mengarah ke Beijing.

Baca Artikel Lainnya

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Hujan Deras Senin 4 Mei Berdampak Luas

Pemuja.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Senin (4/5/2026) malam hingga Selasa pagi kembali memicu banjir di berbagai titik. Dampaknya terasa...

Giant Sea Wall 575 Km: Ambisi Besar di Tengah Keterbatasan Anggaran Negara

Pemuja.com – Ancaman banjir rob di pesisir utara Jawa semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan muka laut dan penurunan tanah membuat sejumlah...

Related Articles

Prabowo Umumkan Aturan Baru, Ekspor Sawit hingga Batu Bara Wajib Lewat BUMN

Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata...

Prabowo Targetkan Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen pada 2027

Pemuja.com – Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kerangka awal APBN 2027 dalam Sidang...

Pemerintah Putuskan Pangkas Anggaran MBG 2026

Pemuja.com – Di tengah tekanan terhadap APBN 2026, pemerintah resmi memangkas anggaran...

Noel: “Mending Korupsi Banyak Sekalian” Usai Dituntut 5 Tahun

Pemuja.com – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel, menghadapi...