Pemuja.com – Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat pada akhir tahun 2025.
Pada kuartal IV-2025, total posisi ULN mencapai US $431,7 miliar atau setara sekitar Rp 7.272–Rp 7.318 triliun, bergantung pada kurs yang digunakan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pada kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar US $427,6 miliar.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa tekanan fiskal masih terasa dalam upaya pembiayaan pembangunan secara hati-hati, meskipun struktur utang secara makro tetap dijaga oleh otoritas moneter.
Sektor Publik Menjadi Pendorong Utang
Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan utang luar negeri pada periode ini terutama didorong oleh peningkatan utang sektor publik, yakni utang pemerintah.
Posisi ULN pemerintah tercatat US $214,3 miliar pada kuartal akhir 2025, lebih tinggi dibandingkan US $210,1 miliar pada kuartal III.
Kenaikan ini sebagian dipengaruhi oleh arus masuk modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang menunjukkan minat investor global masih kuat di tengah ketidakpastian pasar keuangan dunia.
Mayoritas utang pemerintah ini merupakan utang jangka panjang, sehingga secara struktur lebih stabil dan mengurangi risiko tekanan likuiditas jangka pendek.
Utang Sektor Swasta Semakin Ringan
Berbeda dengan sektor pemerintah, utang luar negeri sektor swasta justru menunjukkan tren menurun. Posisi ULN nasional di sektor swasta pada kuartal IV-2025 tercatat US $192,8 miliar, lebih rendah daripada periode sebelumnya. Penurunan ini tampaknya dipicu oleh berkurangnya utang di perusahaan non-keuangan.
Walaupun turun, pangsa utang jangka panjang tetap mendominasi ULN sektor swasta, dengan persentase signifikan mencapai lebih dari 75 %. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan masih mengedepankan pembiayaan jangka panjang dan mengurangi kebutuhan refinansial jangka pendek.

Rasio Utang Luar Negeri terhadap Produk Domestik Bruto
BI mencatat bahwa meskipun terjadi kenaikan nominal ULN, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tetap di level yang sehat.
Pada akhir kuartal IV-2025, rasio ini turun sekitar 29,9 %, meskipun tetap mencerminkan ukuran utang yang besar dari keseluruhan perekonomian.
Rasio yang stabil ini dianggap penting untuk memastikan bahwa utang negara tidak memberikan tekanan besar terhadap kapasitas fiskal nasional, terutama di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.
Peran Utang Luar Negeri dalam Pembiayaan Pembangunan
Para analis ekonomi melihat bahwa utang luar negeri Indonesia pada kuartal IV-2025 sebagian besar digunakan untuk mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
Dana tersebut diarahkan ke sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, layanan sosial, serta administrasi pemerintahan.
Penggunaan utang luar negeri yang produktif ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tantangan dan Ketidakpastian Global
Kenaikan ULN di tengah kondisi global yang tidak stabil mencerminkan tantangan tersendiri bagi Indonesia. Meskipun investor masih menunjukkan ketertarikan terhadap aset Indonesia, risiko seperti fluktuasi nilai tukar, tekanan inflasi global, dan perubahan suku bunga dunia tetap perlu diantisipasi.
BI dan pemerintah terus menekankan pentingnya kehatian-hatian dalam pengelolaan utang untuk menjaga kestabilan perekonomian serta kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban utang tanpa mengorbankan prioritas pembangunan domestik.
Baca Artikel Lainnya :
- Kenali Gejala Serangan Jantung Sejak Dini, Edukasi dari Eka Hospital
- Program MBG Diperluas Lewat SPPG Polri, Muncul Kritik Tajam Publik
- KTT BoP Dimulai Hari Ini, Trump Akan Pimpin Pertemuan Perdana
- Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.300 Triliun Di Kuartal IV-2025
- YouTube Sempat Down Global Pagi Ini, Ini Penyebabnya
Leave a comment