Home Berita Karhutla Mengkhawatirkan, Ribuan Hotspot Terdeteksi di Kalimantan dan Sumatera
BeritaNasional

Karhutla Mengkhawatirkan, Ribuan Hotspot Terdeteksi di Kalimantan dan Sumatera

Share
Karhutla
Karhutla
Share

Pemuja.com – Masalah kebakaran hutan masih menjadi momok utama saat ini. Berdasarkan update data dari BMKG pada Jumat, 11 September 2026, konsentrasi titik panas atau hotspot paling mencolok berada di wilayah Kalimantan.

Dalam peta sebaran titik panas BMKG yang menggunakan data satelit Terra, Aqua, Suomi NPP dan NOAA20, periode pengamatan tercatat pada 11 September 2026 pukul 00.00–13.00 WIB.

Jika kategori sedang dan tinggi digabungkan, Kalimantan mencatat 3.581 titik panas. Sementara Sumatera berada di angka 498 titik panas.

Kalimantan Jadi Wilayah dengan Hotspot Paling Tinggi

Dari peta BMKG, Kalimantan mencatat 3.499 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang atau medium.

Jumlah tersebut ditambah 82 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high.

Dengan demikian, terdapat 3.581 titik panas dalam dua kategori tersebut di Kalimantan pada periode pengamatan BMKG hari ini.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang tercantum dalam peta.

Sebagai pembanding, Jawa mencatat 115 hotspot kategori sedang dan 3 kategori tinggi. Sulawesi memiliki 245 kategori sedang dan 2 kategori tinggi.

Sementara Papua dan Maluku mencatat 144 hotspot kategori sedang serta 43 kategori tinggi.

Baca Juga : BMKG : El Nino Bertahan hingga 2027, 7 Daerah Rentan Karhutla

Sumatera Terdeteksi 498 Hotspot

Sumatera juga masih menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian.

BMKG mencatat 496 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang dan 2 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Jika kedua kategori tersebut digabungkan, Sumatera memiliki 498 hotspot dalam periode pengamatan 00.00–13.00 WIB.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot pada hari ini sangat menonjol di dua kawasan besar, yakni Kalimantan dan Sumatera.

Data BMKG sendiri menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada sejumlah satelit polar. Deteksi hotspot memberikan gambaran lokasi anomali panas, sehingga keberadaan hotspot tidak otomatis berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran hutan yang sedang berlangsung. Tetap diperlukan verifikasi di lapangan.

Pemadaman Masih Terkendala Air

Persoalan di lapangan juga tidak sederhana.

Di sejumlah wilayah Kalimantan, petugas pemadam menghadapi tantangan berupa sulitnya mendapatkan sumber air. Kondisi tersebut semakin berat ketika api masuk ke kawasan gambut.

Di Kalimantan Tengah, misalnya, pemadaman dan pendinginan karhutla dilaporkan terkendala minimnya pasokan air. Api di lahan gambut juga membutuhkan proses pendinginan berulang karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

Situasi serupa juga terjadi di sejumlah lokasi Kalimantan Barat. BNPB sebelumnya melaporkan akses sumber air di salah satu lokasi kebakaran mencapai sekitar 500 meter dari titik api, sementara medan menyulitkan kendaraan operasional masuk sehingga peralatan harus dibawa secara manual.

Api Mulai Mendekati Permukiman

Ancaman karhutla juga bukan hanya soal luas lahan yang terbakar.

Di Kubu Raya, Kalimantan Barat, kebakaran lahan gambut dilaporkan berada di sekitar permukiman warga, lahan produktif dan area peternakan. Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan dengan cepat agar api tidak semakin mendekati rumah warga.

Pemerintah juga terus memperkuat operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara. Kementerian Kehutanan menyebut 53 pesawat disiagakan untuk wilayah prioritas, terdiri dari 34 pesawat untuk water bombing dan 19 pesawat untuk patroli udara serta operasi modifikasi cuaca.

September Masih Menjadi Fase Kritis

BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla.

Cuaca kering, pengaruh El Nino dan tingginya jumlah hotspot menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Data hari ini kembali menunjukkan bahwa Kalimantan dan Sumatera menjadi dua kawasan yang patut mendapat perhatian serius.

Dengan jumlah hotspot kategori sedang dan tinggi mencapai 3.581 di Kalimantan serta 498 di Sumatera, tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana mendeteksi titik panas, tetapi memastikan titik-titik tersebut segera diverifikasi dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Baca Artikel Lainnya :

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Kemenkes : Kualitas Udara 25 Wilayah Terdampak Karhutla Buruk

Pemuja.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kondisi kualitas udara di 25 kabupaten/kota yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan menunjukkan sejumlah wilayah...

Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89 Tahun

Pemuja.com – Raja Norwegia Harald V meninggal dunia pada Jumat, 28 Agustus 2026, di usia 89 tahun. Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh...

Related Articles

Sayembara Ditutup, Denny Indrayana Tegas Gugat Gibran ke MK

Pemuja.com – Persoalan ijazah Gibran Rakabuming Raka, sang Wakil Presiden, kini memasuki...

Pertamina Pangkas 139 Anak Usaha, Danantara Dorong Konsolidasi

Pemuja.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mendorong perampingan struktur...

BMKG : El Nino Bertahan hingga 2027, 7 Daerah Rentan Karhutla

Pemuja.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah...

Polda Metro Geledah BPN Bogor, Usut Dugaan Mafia Tanah PTSL

Pemuja.com – Polda Metro Jaya menggeledah Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I pada...