Pemuja.com – Akhirnya yang dikhawatirkan sebagian masyarakat terjadi juga. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah siang ini resmi menembus Rp18.040 dan langsung menjadi perhatian publik.
Pelemahan rupiah kali ini juga diikuti tekanan terhadap IHSG. Sentimen investor terhadap kondisi ekonomi global dan domestik ikut melemah dalam beberapa hari terakhir.
Banyak pelaku pasar mulai menyoroti isu fiskal pemerintah. Kebijakan ekonomi terbaru juga dinilai ikut memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait anjloknya rupiah. Ia menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipicu isu dan rumor pasar.
Menurut Purbaya, kondisi tersebut bukan karena fundamental ekonomi Indonesia memburuk. Ia meminta publik tidak terlalu panik menghadapi gejolak pasar saat ini.
Purbaya juga membantah rumor soal pemerintah meminta perbankan melakukan stress test jika dolar menembus Rp18.000. Menurutnya, isu seperti itu justru memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah.
APBN Masih Aman
Purbaya menegaskan kondisi APBN masih aman meski dolar terus menguat. Ia menyebut penerimaan pajak dan posisi fiskal pemerintah masih terkendali.
Menurutnya, pemerintah sejak awal sudah menghitung skenario pelemahan rupiah dalam penyusunan APBN. Karena itu, tekanan yang terjadi saat ini disebut masih dalam batas antisipasi pemerintah.
Ia juga tetap optimistis rupiah nantinya bisa kembali menguat. Pemerintah disebut terus menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Daya Beli Masyarakat Mulai Dikhawatirkan
Selain faktor global, pasar juga menyoroti kondisi ekonomi dalam negeri. Arus modal asing yang keluar dari pasar domestik ikut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Kebutuhan impor energi dan bahan baku juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Di media sosial, pelemahan rupiah mulai dikaitkan dengan potensi kenaikan harga barang. Masyarakat khawatir harga kebutuhan pokok ikut terdampak jika dolar terus bertahan tinggi.

Sebagian masyarakat juga mulai menilai pemerintah terlalu fokus menjaga stabilitas APBN. Sementara itu, dampak langsung terhadap masyarakat dinilai belum banyak dibahas.
Padahal pelemahan rupiah bisa memengaruhi daya beli masyarakat. Harga barang elektronik, biaya pendidikan luar negeri, dan cicilan berbasis dolar juga berpotensi naik.
Pelaku usaha yang bergantung pada impor mulai menghadapi kenaikan biaya operasional. Jika kondisi ini berlangsung lama, harga jual produk di pasaran juga bisa ikut meningkat.
Bukan hanya itu, tekanan ekonomi juga dikhawatirkan memengaruhi lapangan kerja dan aktivitas usaha di beberapa sektor. Kondisi tersebut kini mulai menjadi perhatian masyarakat.
Publik kini menanti langkah konkret pemerintah dan Bank Indonesia untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Banyak pihak berharap kondisi ini tidak berkembang menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas.
Baca Artikel Lainnya :
- Dolar Hari Ini Tembus Rp18.000, Tapi Fundamental Ekonomi Masih Aman
- BGN Tetap Buat Acara Saat Diguncang Kasus dan Penangkapan 3 Eks Pimpinannya
- Iran Gempur Kuwait, 1 Orang Tewas dan 63 Terluka
- Noel Hadapi Sidang Vonis Kasus Pemerasan Sertifikasi K3 Hari Ini
- Gerak Cepat, 3 Mantan Petinggi BGN Resmi Ditahan Kejagung
Leave a comment