Pemuja.com – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat akhirnya menyetujui resolusi untuk menghentikan keterlibatan militer Amerika dalam perang melawan Iran. Keputusan tersebut menjadi pukulan besar bagi Presiden Donald Trump karena mulai muncul perlawanan dari internal Partai Republik sendiri.
Voting yang digelar di DPR AS menghasilkan 215 suara setuju dan 208 suara menolak. Empat anggota Partai Republik ikut bergabung bersama Demokrat untuk mendukung penghentian perang Iran.

Resolusi itu menggunakan dasar War Powers Resolution 1973, aturan yang membatasi presiden melakukan perang tanpa persetujuan Kongres. Banyak anggota parlemen menilai perang yang sudah berlangsung beberapa bulan tersebut mulai membebani ekonomi Amerika dan memicu ketidakstabilan global.
Dukungan Terhadap Trump Mulai Retak
Awalnya Partai Republik hampir sepenuhnya mendukung operasi militer terhadap Iran. Namun dalam beberapa pekan terakhir, dukungan tersebut mulai pecah.
Sebelum resolusi ini lolos, DPR AS sempat beberapa kali gagal menghentikan perang. Kondisi itu menunjukkan semakin banyak anggota Partai Republik mulai khawatir terhadap dampak perang berkepanjangan.
Sejumlah anggota Kongres menilai perang Iran sudah terlalu mahal dan mulai memicu tekanan ekonomi dalam negeri. Harga energi naik, inflasi kembali menjadi perhatian, dan jalur perdagangan minyak dunia terganggu akibat memanasnya situasi di Selat Hormuz.
Di sisi lain, masyarakat Amerika juga mulai kehilangan dukungan terhadap perang tersebut. Banyak warga AS khawatir negaranya kembali terjebak dalam konflik panjang seperti Irak maupun Afghanistan.

Biaya Perang Tembus Ribuan Triliun Rupiah
Biaya perang kini menjadi sorotan terbesar di Washington.
Berbagai estimasi menyebut biaya perang sudah mencapai puluhan miliar dolar AS hanya dalam beberapa bulan pertama konflik. Bahkan pemerintah Amerika disebut menyiapkan tambahan anggaran sangat besar untuk mendukung operasi militer lanjutan di Timur Tengah.
Pengeluaran tersebut mencakup operasi kapal induk, serangan udara, pengiriman rudal, logistik militer, hingga penambahan pasukan di kawasan Teluk.
Jika dikonversi ke rupiah, total biaya perang diperkirakan mencapai ribuan triliun rupiah. Nilai fantastis itu memicu kritik karena dianggap terlalu membebani anggaran negara di tengah kondisi ekonomi Amerika yang belum sepenuhnya stabil.

Senat AS Jadi Penentu
Meski DPR sudah menyetujui resolusi penghentian perang, proses politik belum selesai. Senat AS masih harus membahas aturan serupa sebelum benar-benar bisa membatasi langkah militer Presiden Trump terhadap Iran.
Namun situasi politik kini mulai berubah. Dukungan terhadap perang perlahan melemah dan tekanan publik semakin besar. Banyak pengamat menilai ini menjadi salah satu ujian politik terbesar Trump di bidang luar negeri sejak kembali menjabat sebagai presiden.
Jika konflik terus berlanjut, bukan hanya biaya perang yang akan membengkak. Krisis energi dunia, harga minyak global, hingga stabilitas ekonomi internasional juga dikhawatirkan ikut terdampak semakin parah. Kini bola ditangan Trump, apakah akan mematuhi kehendak Senat?
Leave a comment